oleh

Berani Pedas Level 3 ? Coba Saja Cicipi Mie Mercon

YOGYAKARTA – Di tangan pria berambut putih ini, mi instan diolah menjadi menu makan siang  yang enak di lidah.

Adalah Saiful Barri, laki-laki yang dikenal pintar memasak mi instan. Ia pemilik warung Mie Mercon “An-Nuur”. Mengapa pakai istilah mercon?

Karena mi bikinan Saiful dikenal super pedas. Di tangan  warga Kauman, Gondomanan ini, mi instan diramu menjadi kuliner pedas yang menyenangkan.

“Saya suka mi nyemek bikinan Pak Ipul. Rasanya beda,” ujar Intan, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

Intan menjadi pelanggan Warung Mi Mercon An-Nuur” sejak tahun 2015. Ia paling sering makan siang bersama teman-temanya di tempat ini.

Warung Mi Mercon dibuka kali pertama tahun 2005. Lokasinya di utara Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta.

BACA JUGA: Touring Mendadak, Mampir Sejenak di Heha Ocean View

Kebanyakan, pelanggan setia warung ini adalah pelajar yang lokasi sekolah berada di sekitar Kecamatan Gondomanan, Kraton dan Kecamatan Ngampilan.

Antara lain pelajar Madrasah Muallimmat Muhammadiyah, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Yogyakarta, SMA 10 Negeri Yogyakarta, dan SMA  Muhammadiyah 5 Yogyakarta.

Juga sejumlah sekolah menengah pertama. Termasuk mahasiswa yang kuliah di Universitas Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (UAD).

Warung ini buka setiap hari pukul 12.00 – 17.00. Namun, bisa saja  molor hingga pukul 19.00 bila kebanjiran pembeli.

BACA JUGA: Ribuan Telur Penyu Menetas di Goa Cemara

PELANGGAN SETIA: Penikmat mi mercon. (saiful)

Harga per porsi sangat terjangkau. Hanya Rp 7 ribu per porsi. Sementara untuk minuman, tinggal memilih.

Ada berbagai macam jus, teh panas dan jeruk.  Warung Mi Mercon ini memanfaatkan rumah dengan model bangunan lama.

“Tempatnya bagus. Bisa untuk selfie,” kata Qori, pelanggan yang lain.

Itulah sebabnya, warung ini selalu ramai. Para pembeli bisa berlama-lama berada di tempat ini. Namun, pada masa pandemi, Saiful membatasi diri.

“Jika ada yang pesan melalui whatsapp, tapi pembeli sudah penuh, saya hanya bilang ke warung dua jam lagi,” kata Saiful. (nik/asa)