oleh

PHRI DIY Minta Wisata Pantai di Gunungkidul Segera Dibuka

YOGYAKARTA – Bagaimana kondisi bisnis perhotelan di Daerah Istimewa Yogyakarta ?  Ternyata, belum baik-baik saja.

“Karena memang itu kenyataannya,” kata Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono kepada ZonaJogja.Com, hari ini (16/10/2021).

Deddy membenarkan  hotel-hotel di Yogyakarta dalam dua minggu terakhir banjir tamu. Terutama hotel bintang 3,4 dan hotel bintang 5.

Okupansi berkisar 60 – 80 persen dari 70 persen kuota ketersediaan kamar.  Jumlah tamu yang menginap mengalami peningkatan dibandingkan enam bulan lalu.

Sementara okupansi hotel bintang 1 dan 2 sekitar 40-60 persen dari 70 persen ketersediaan kamar.

Bagaimana dengan hotel kelas melati? Deddy yang juga owner Hotel Ruba Grha bersyukur pengelola penginapan kelas melati kecipratan rejeki tamu dari luar DIY.

“Alhamdulillah. Meski tidak semua penginapan kedatangan tamu,” katanya.

BACA JUGA: Herry Zudianto Tanya tentang Malioboro, Jawaban Netizen Seperti Ini

Kata Deddy, hotel berbintang atau penginapan kelas melati dalam dua minggu terakhir didatangi tamu wisatawan domestik.

Namun, pendapatan tersebut belum bisa menutup biaya operasional selama satu setengah tahun terakhir.

Pengelola hotel masih menanggung beban pembiayaan. Antara lain, gaji pegawai, pajak air, pajak listrik, pajak bumi dan bangunan, pemeliharaan, serta kebutuhan operasioal lain.

“Jangan lupa, selama satu setengah tahun terakhir, kami mandiri. Tidak ada bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

Kondisi tersebut yang seharusnya juga perlu dipikirkan pemerintah. Kelangsungan hotel sangat tergantung dengan wisatawan.

Sementara kedatangan wisatawan ke DIY belum bisa diandalkan. Penyebabnya antara lain penutupan sejumlah tempat wisata karena alasan memutus penularan virus corona.

BACA JUGA: Kota Yogyakarta jadi Wisata Sepeda, 32 Walikota Gowes Tilik Jeron Beteng

SINERGIS: Diskusi BPC PHRI Buleleng Bali dengan BPD PHRI DIY. (istimewa)

Padahal, tempat wisata memberi dampak signifikan bagi peningkatan tamu hotel.

“Bagaimana wisatawan mau liburan dan menginap di hotel kalau tempat wisata yang mau didatangi ditutup?” kata Deddy.

Itulah sebabnya, Deddy menyarankan pemerintah daerah segera membuka tempat wisata yang potensial mendatangkan wisatawan. Ia menyebut wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul.

Menurut pengamatan Deddy, pantai-pantai di Gunungkidul tetap menjadi favorit wisatawan domestik. Mereka berwisata di Gunungkidul, tapi menginap di Yogyakarta.

Soal protokol kesehatan, Deddy memastikan pengelola tempat wisata pantai di Gunungkidul sudah sadar prokes. (aza/asa)