oleh

Mengembangkan Kebudayaan Berkemajuan | oleh: Ki H Ashad Kusuma Djaya

NALAR musik barat yang sarat dengan kepentingan industrial kapitalistik membuat banyak orang salah paham. Berpaham salah dalam memandang rangkaian bunyi-bunyian di kebudayaan kita.

Mereka tak menyadari keindahan irama sebagai media olah rasa karena asyik dengan pelajaran olah pikir. Bahkan, mereka tak menyadari beda-beda frekuensi gelombang dalam bunyi-bunyian itu terhubung dengan irama detak jantung dan syaraf-syaraf kesadaran manusia.

Ada sekian banyak kelompok seni bunyi-bunyian yang dibina oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) di Kota Yogyakarta serta Kabupaten se-DIY. Masing-masing terhubung dengan LSBO di PDM masing-masing.

Kebanyakan keterhubungan itu tidak melalui struktur keorganisasian yang birokratis, tetapi melalui gelaran karya yang terus berjalan. Konon memang seniman dan pelaku budaya itu adalah salah satu jenis makhluk yang tak mau dibelenggu birokrasi.

BACA JUGA: Pemkot Yogyakarta Lakukan Swab Acak di Malioboro

GOJEK LESUNG: Salah satu seni tradisional yang digarap PCM Nglipar, Gunungkidul. (tangkapan layar)

Maka yang bisa mengikat kuat mereka hanyalah atmosfer dan ekosistem budaya yang memberi ruang untuk saling menggelar karya dan berdialog antar sesama mereka.

Atmosfer dan ekosistem budaya yang dibangun oleh LSBO PWM DIY yang dikomandani mas Akhir Lusono dengan dukungan dari Gus Wie dan ayahanda Gita Danupranata mengarah pada pengembangan kebudayaan yang berkemajuan.

Di dalamnya ada tantangan yang menyertainya, yaitu kuatnya paradigma kebudayaan yang berorintasi masa lalu di satu sisi dan pandangan keilmuan yang ahistoris di sisi lain.

Karena itu aktor-aktor penggerak budaya di LSBO justru harus mampu mengubah tantangan itu menjadi kekuatan. Masa lalu harus dilihat sebagai modal sosial dan pandangan ahistoris menjadi cambuk untuk melahirkan karya-karya yang historis.

Ada tiga agenda penting untuk mendorong kebudayaan berkemajuan itu. Pertama, mengajak setiap penggerak budaya mau belajar dan berani berdebat tentang konsep-konsep kebudayaan yang melingkupi karya-karya budayanya. Kedua, memperbaiki skill organisasi dalam pengembangan karya-karya budaya. Dan ketiga, terus memotivasi diri untuk produktif dalam berkarya. (*)

  • Penulis adalah Budayawan Muhammadiyah dan Penggerak Budaya Literasi