Tutup
Profil

Apapun Kesulitan Hidup, Jaga Otak Tetap Waras, Hati Dibikin Gembira

90
×

Apapun Kesulitan Hidup, Jaga Otak Tetap Waras, Hati Dibikin Gembira

Sebarkan artikel ini
EKSPRESIF: Saat menikmati liburan di Gunung Bromo. (dok. pribadi)

YOGYAKARTA, ZonaJogja.Com – Perempuan satu ini menjadi topik pembicaraan di mana-mana saat merilis buku pertama berjudul This is America, Beibeh !

Wanita ini bernama Dian Nugraheni, kelahiran Purworejo, 7 Desember 1969.

Advertisiment
Scroll ke bawah untuk berita selengkapnya

Buku itu dicetak Penerbit Buku Kompas tahun 2013. Buku ini merupakan kumpulan catatan di facebook.

Setelah sukses menulis This is America, Beibeh !, ibu dari Cedar Imani dan Almasita Nan Pekerti kembali merilis buku baru.

Buku baru ini diberi judul  I’m So Sorry Indonesia: Ketegaran Hari Seorang Ibu Imigran di Amerika.

Tebalnya 273 halaman. Kembali dicetak Penerbit Buku Kompas tahun 2017.

Editor Amalia Paramita; dan Wiko Haripahargio sebagai perancang sampul.

PENULIS ALAMI: Menyampaikan pesan kehidupan. (dok. pribadi)

I’m So Sorry Indonesia berkisah tentang perjalanan hidup Dian bersama kedua anaknya di Amerika.

Wanita yang tinggal di Virginia ini mengaku bukan penulis profesional. Ia hanya seorang storyteller.

“Buku ini kumpulan yang aku alami bersama anak-anak sebagai imigran di Amerika,” kata Dian kepada ZonaJogja.Com, hari ini (10/7/2022).

Buku dengan sampul gambar dirinya ini terdapat lima bagian. Yakni, bertitel Masa Terus Berganti, Tentang Anak-anak,  Amerika Sehari-hari, Dirty Little Secret dan The Nanny.

Pada tulisan pengantarnya, Dian mengatakan tinggal bersama kedua anaknya di Virginia. Negara bagian  di Amerika Serikat yang dibanggakan sebagai The Virgin Land.

Saat buku ini ditulis tahun 2017, Cedar, anak sulungnya menjadi freshman di community college.


BACA JUGA:


FOTOJENIK: Saat bergaya di tempat wisata alam. (dok. pribadi)

Sedangkan Alma, anaknya yang bungsu, naik ke kelas 10 high school.

Pada halaman 37 bertitel Pulang Kampung Pertama, Dian mengungkapkan kerinduan pulang kampung halaman.

Padahal, ia belum genap tinggal di Amerika. Keinginan pulang ke Indonesia semakin kuat.

“Tapi, masalah pulang kampung tak akan mudah bagi para imigran,” ujarnya. Ada yang memiliki banyak uang, bisa membeli tiket pesawat terbang, namun tak mempunyai dokumen.

Sementara Dian memiliki dokumen lengkap, namun kondisi finansial yang belum memungkinkan.

“Maklum cuma kerja buruh. Uang yang diperoleh Cuma cukup untuk sebulan,” katanya.

Setelah dana mencukupi, Dian akhirnya kembali ke Indonesia. Akhir Mei lalu, ia terbang dari Amerika ke Indonesia.

Ia ingin pulang kampung di  salah satu kota kecil di Jawa Tengah.

MUDIK: Pulang kampung halaman. (dok. pribadi)

Setelah mengobati kerinduan di kampung halaman, Dian menggebu-gebu ingin ke Yogyakarta. Padahal, kondisi badan sedang tidak fit.

Setiba di Yogyakarta, Dian memutuskan jalan-jalan di Malioboro. Seperti saat  kuliah, ia menyempatkan kebiasaan minum teh hangat dan makan pecel di pinggir jalan.

Singkat cerita, Dian bersama kedua anaknya harus menyudahi liburan di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Selanjutnya, Dian bersama anak-anaknya meneruskan perjalanan menyambangi beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tujuannya tak lain menuntaskan kerinduan kepada sahabat dan tempat-tempat bersejarah.

Bagi Dian, hidup harus terus dihidupi. Seperti yang disampaikan dalam bukunya I’m So Sorry Indonesia, Dian berujar tentang hidup dan kenyataan.

“Jangan lupa kawan-kawan. Apapun kesulitan hidup, jaga otak tetap waras. Gembirakan hati,” katanya.

Sehingga kehidupan bisa menjadi exorcist dari setiap kesulitan yang datang sewaktu-waktu.

“Yang penting lagi tetap bersyukur kepada Gusti Allah, apapun keadaannya,” ujarnya.

 

(aza/asa)