Tutup
Headline

Pakar UGM Sebut Selat Muria Tidak akan Muncul Lagi, Masyarakat Tak Perlu Khawatir

121
×

Pakar UGM Sebut Selat Muria Tidak akan Muncul Lagi, Masyarakat Tak Perlu Khawatir

Sebarkan artikel ini
SEMAKIN SURUT: Kondisi salah satu jalan protokol di Demak. (demakkab.go.id)

ZonaJogja.Com – Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Salahuddin Husein ST MSc PhD menyatakan Selat Muria di Jawa Tengah tidak akan muncul lagi.

Salahudin  membenarkan wilayah Demak, Juwana, dan Pati awalnya merupakan Selat Muria. Lalu, berubah menjadi dataran rendah sekitar abad 10 hingga 15.

Advertisiment
Scroll ke bawah untuk berita selengkapnya

Terbentuknya daratan tersebut karena sedimen yang terbawa saat banjir berulang.

“Tapi, menurut saya, Selat Muria tidak akan muncul lagi,” kata Salahudin di UGM, hari ini (25/3/2024).

Alasannya, proses geologi berupa erosi Lajur Perbukitan Kendeng dan Lajur Perbukitan Rembang terus berlangsung.

BERITA LAIN: Diskominfosan Kota Yogyakarta Buka Loker, Ini Posisi yang Dibutuhkan

Yakni, erosi dua lajur perbukitan oleh jejaring Sungai Tuntang, Sungai Serang, dan Sungai Juwana yang berlangsung hingga sekarang.

Salahudin mengatakan, erosi membawa sedimen  cukup tinggi. Kondisi tersebut mengakibatkan pendangkalan di Selat Muria.

Wilayah Demak, Pati, dan Juwana merupakan dataran rendah hasil  sedimentasi banjir dari Sungai Tuntang, Sungai Serang, dan Sungai Juwana.

Selat Muria menghilang, dan menjadi dataran rendah  karena banjir di tiga sungai.

BERITA LAIN: Peduli Dhuafa, RDK Universitas Ahmad Dahlan Bagikan 1.470 Paket Sembako

“Tidak  perlu mengkhawatirkan Demak dan sekitarnya akan jadi laut lagi. Karena banjir yang berulang ini membawa sedimen yang membentuk dataran rendah,” jelasnya.

Mengantisipasi terjadinya banjir ekstrim di Demak dan sekitarnya, Salahuddin berpendapat pemerintah perlu mengkaji ulang kapasitas tanggul.

Perlu dilakukan redesain dengan menyesuaikan kondisi sekarang.

Harapannya,  tiga sungai bisa menampung lebih banyak lagi debit air hujan tanpa harus menyebabkan banjir. (*)