Tutup
Kronika

Masyarakat Berburu Telur Merah, Panganan Jadul yang Hanya Dijual 3 Kali Setahun

258
×

Masyarakat Berburu Telur Merah, Panganan Jadul yang Hanya Dijual 3 Kali Setahun

Sebarkan artikel ini
DIBORONG: Pedagang telur merah melayani pembeli usai shalat Idul Fitri, 10 April lalu. (nadhif alam zain/zonajogja.com)

ZonaJogja.Com – Kuliner apa yang khas saat pelaksanaan grebeg Keraton Kasultanan Yogyakarta? Jawabnya telur merah atau endog abang.

Panganan satu ini hanya bisa ditemui di Kota Yogyakarta setidaknya pada tiga momen.

Advertisiment
Scroll ke bawah untuk berita selengkapnya

Pertama,  saat memperingati  kelahiran Nabi Muhammad SAW (Garebeg Mulud).

Kedua, Hari Raya Idul Fitri (Garebeg Pasa). Ketiga, saat Hari Raya Idul Adha atau disebut Garebeg Besar.

Para pedagang telur merah biasanya mangkal tak jauh dari Kraton Yogyakarta.

BERITA LAIN: Jemaah Shalat Idul Fitri di Pelataran Masjid Gedhe Mbludak, Jalan Dipenuhi Mobil Luar DIY

Ada yang berjualan di Alun-alun Utara, atau sekitar Masjid Gedhe Kauman.

Kebanyakan, para penjual telur merah sudah berusia. Rata-rata sudah berusia di atas 60 tahun.

Penjual berusia muda bisa dihitung dengan jari. Mereka berasal dari Yogyakarta, Bantul dan Sleman.

Berangkat dari rumah sejak pagi hari. Mengenakan kebaya  dan jarit khas Yogyakarta, para pedagang mengusung telur merah menggunakan tenggok.

Tenggok diikat dengan selendang. Ada yang membawa dengan jalan kaki, memanfaatkan jasa becak.

BERITA LAIN: Alumnus Jurusan Matematika Ini Memandikan Ribuan Jenazah, Mengaku Dapat Banyak Hikmah

Ada pula pedagang  yang menuju lokasi grebeg diantar dengan sepeda motor.

Saat pelaksanaan shalat Idul Fitri di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta 10 April lalu, terlihat sejumlah pedagang telur merah.

Mereka juga menunaikan shalat ied tak jauh dari tempat lapak. Antara lain di gerbang masjid Gedhe Kauman. Usai shalat, para pedagang cukup duduk bersimpuh.

Tak lama kemudian, masyarakat berdatangan. Ada yang sekadar melihat. Ada pula yang membeli.

BERITA LAIN: Selama Ramadhan, LazisMu RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta-Gamping Salurkan Rp 447 Juta Lebih

“Ini kuliner jadul. Mengingatkan saat saya masih kecil,” tutur seorang ibu sembari membawa dua sunduk telur merah.

Tatapan matanya menyiratkan kembali ke perjalanan hidup masa lalu.

Sekadar diketahui. Telur merah adalah telur yang direbus. Setelah matang, telur diberi warna merah.

Prosesnya tidak lama. Lalu, telur disunduk dengan bambu yang dipotong menyerupai tangkai sate ayam atau kambing.

BERITA LAIN: Haedar Nashir: Mas Afnan Berhak Maju jadi Calon Walikota

Di atas telur diberikan hiasan seperti mahkota. Hiasan ini dibuat dari kertas putih.

Saat menjajakan, telur merah ini ditancapkan di pelepah daun pisang. Konon, telur merah memiliki makna kelahiran kembali untuk kehidupan yang semakin sejahtera.

Telur merah pada tahun ini  dijual dengan harga bervariasi. Mulai Rp 4.000 hingga Rp 6.000 per butir.  (*)