Beranda » Wisata » Kenangan Ke Kinahrejo Naik Bus Baker, Turun Wisata Kaliurang, Jalan Kaki Melewati Hutan Gelap

Kenangan Ke Kinahrejo Naik Bus Baker, Turun Wisata Kaliurang, Jalan Kaki Melewati Hutan Gelap

ZonaJogja.Com – Mengakhiri pekan di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman adalah cara murah pada tahun 1990an.

Apalagi jika stamina mendaki sedang tidak memungkinkan, menghabiskan malam minggu di Kinahrejo sangat menyenangkan. Apalagi bisa ngobrol dengan Juru Kunci Gunung Merapi, MNg Suraksohargo atau Mbak Maridjan.

Banyak jalan menuju Kinahrejo. Ada yang berangkat dari Jalan Mayor Suryotomo.  Persisnya di timur Pasar Beringharjo. Di tempat ini, bus Baker tiba sekitar pukul 15.30, ngetem mencari penumpang.

Ini adalah kloter terakhir setelah  berangkat dari Terminal THR. Tujuan akhir  membawa para penumpang menuju ke Wisata Tlogoputri melewati jalan Kaliurang.

Kebanyakan penumpang adalah para pedagang Beringharjo yang pulang sore.

BERITA LAIN:Unggul di Survei LKPI, Sudaryono jadi Pilihan Masyarakat Jateng pada Pilgub 2024

KINAHREJO: Masjid yang berada di sebelah barat kediaman Mbah Marijan di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. Foto diambil tahun 2010. (azam/zonajogja.com)

Ada juga mahasiswa UGM dan UNY. Tapi, kursi paling banyak diisi penumpang yang rata-rata anak muda.

Tampilan mengenakan kaos yang denga luaran baju planel. Bawahan pakai celana jins. Lalu, di punggung melekat ransel atau tas khas anak gunung.

Dulu, peralatan mendaki yang paling populer bermerek Alpina. Para pendaki biasa membeli sepatu, sandal gunung, tas dan kemeja di salah satu toko Malioboro. Persisnya berada di utara Toko Ramai Jalan Ahmad Yani.

Setelah pukul 16.00, bus Baker berangkat  melewati jembatan Kewek, Terban hingga jalan Kaliurang. Waktu itu, jalanan masih sepi. Lengang.

Kawasan UGM masih sepi. Belum banyak pedagang kaki lima berjualan di pinggir jalan. Jalan  lingkar utara juga belum ada.

BERITA LAIN: Nanti Malam, Launching Maskot dan Jingle Pilwakot, Dimeriahkan Ndarboy

POS RUDAL: Tempat istirahat favorit bagi pendaki Gunung Merapi jalur selatan. (azam/zonajogja.com)

Dalam perjalanan, semua pendaki tampak bahagia. Bercanda dengan kawan-kawan. Guyon apa saja. Bahkan, sesekali sopir dan kernet ikut tertawa menyimak obrolan teman-teman di bus.

Bahkan, ada pendaki yang menjadi kernet. Sementara kernet asli duduk di kursi  depan di sebelah sopir. Menyenangkan. Tidak ada sekat. Semua terlihat harmoni. Hubungan antara pendaki dan awak bus juga menyenangkan.

Itulah sebabnya, kernet sering membebaskan biaya naik bus. Waktu itu tarifnya Rp 750 hingga sampai ke Kaliurang. Tapi, ada juga pendaki yang ngutang. Baru dibayar seminggu kemudian. Hihihi…

Setiba di Kaliurang, ada yang mampir di masjid. Ada pula yang langsung jalan kaki masuk kawasan wisata Tlogoputri menuju Kinahrejo. Berjalan menyisir hutan Merapi. Kondisinya gelap. Tidak ada lampu. Bisa jadi tampak seram dan menakutkan.

Saking sepinya, suara tarikan nafas sampai terdengar. Sesekali terdengar nyanyian binatang-binatang malam. Namun, karena berangkat secara berombongan, rasa takut itu terlupakan.  Radio atau tape walkman yang dibawa beberapa pendaki memberi semangat suasana.

BERITA LAIN: Fapet UGM Kerjasama dengan PT Juang Jaya Abdi Alam, Perlu Riset Tingkatkan Usaha Sapi Potong

Atau pendaki yang main gitar kencrong, bisa menghibur kesepian. Jalan yang dilewati berupa pasir dan bebatuan. Salah satu lokasi favorit bagi pendaki adalah Kalikuning.

Di tempat ini terdapat jembatan penghubung. Biasa disebut “Jalan Maliboro”. Dibawahnya terdapat tebing dari lava Merapi yang membeku.

Sekitar satu jam kemudian, pecinta alam tiba di Kinahrejo. Kebanyakan rumah penduduk masih menggunakan semprong sebagai penerang rumah. Ada juga yang sudah dialiri listrik dengan kekuatan 110 volt. Tapi, jumlahnya tak banyak.

Di tempat ini, pendaki langsung menuju basecamp masing-masing. Ada yang ke tempatnya Bu Purwanto, Mbak Udi, Pak Wignyo, Yu Panut, ada juga yang memilih tempatnya Mbah Maridjan.

BERITA LAIN: Beli Kartu Perdana Telkomsel di Festival Cooltura, Berkesempatan Dapat Hadiah Sepeda Motor

MASA LALU: Pendaki melintasi Kali Kuning di Kawasan Wisata Kaliurang pada tahun 1990an. (dok. komunitas merapi)

Sementara ada juga yang langsung menuju warung. Yakni warung milik Bu Pur, Mbah Udi, Yu Panut atau warung Pak Wignyo yang berlokadi  di sebelah gapura pendakian menuju Merapi. Warung ini hanya buka Sabtu dan Minggu. Warung-warung ini tampak sederhana. Hanya diterangi lampu minyak tanah.

Makanan yang disuguhkan sangat tradisional. Ada pisang goreng, tempe dan tahu goreng. Lalu makanan agak berat ada mi instan. Minumannya wedang jahe, kopi atau kopi susu dan teh panas. Minuman yang kemudian menjadi khas Merapi adalah wedang gedang.

Bila malam telah datang, ada yang duduk melingar di halaman Kinahrejo. Melawan hawa dingin dengan membuat api unggun di tengah lingkaran. Ada pula rombongan yang memilih Bebeng, Kaliadem sebagai tempat menikmati malam. (*/bersambung)

Penulis:

Hobinya menulis, mendaki dan jalan-jalan...

KOMENTAR (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

PILIHAN REDAKSI

Inilah Kisah Supono, Pemain Tarkam Badminton yang Pensiun Setelah Kedua Mata Kena Glaukoma

  • 13 Oktober 2026 07:58 WIB

Teknik bermain Supono sangat mumpuni. Dikenal sebagai pemain  yang alot saat bermain di lapangan.

Danais Support Pengembangan IoT di Pleret, Ajak Anak Muda jadi Petani Milenial

  • 24 September 2026 18:36 WIB

Teknologi Internet of Things (IoT) diterapkan di lahan hortikultura dengan komoditas bawang merah, pare dan cabai.

Danais Dukung Jogja Book Fair 2026, Anak-Anak Muda Serbu Pameran Arsip Keistimewaan

  • 30 Agustus 2026 18:13 WIB

Puluhan program acara pendamping telah disiapkan selama penyelenggaraan kegiatan yang akan berakhir 8 September mendatang.

Acaranya Keren, Desain yang Dipamerkan Bagus Bagus

  • 10 Oktober 2026 22:03 WIB

Jogja Fashion Rendezvous 2026 merupakan kolaborasi ASMAT PRO Group bersama Jogja City Mall.

Peringati Hari Kemerdekaan Indonesia, Pecinta Alam Gelar Upacara di Monumen Rudal Merapi

  • 18 Agustus 2026 10:55 WIB

Saat terjadi erupsi Gunung Merapi tahun 2010, monumen rudal rusak. Tahun 2017, monumen kembali dibangun di Desa Kinahrejo.

Bikin Foto Tahun 80an di Sosmed, Ini Caranya

  • 10 September 2026 06:27 WIB

Setelah foto diunggah, tunggu proses. Tak sampai 1 menit, foto yang diunggah akan tampil ala tahun 80an.

Ditanya Tenaga Ahli Utama KSP soal MBG, Pelajar SMP 10 Yogyakarta Bilang Enak dan Suka

  • 7 September 2026 13:39 WIB

Pemkot Yogyakarta terus memperkuat koordinasi antara satgas, perangkat daerah dan SPPG untuk memantau pelaksanaan MBG secara kontinyu.

Sultan Nyatakan Jukir Tak Punya Hak Tentukan Tarif

  • 21 September 2026 20:44 WIB

GKR Condrokirono telah menjelaskan Bolosego  mengantongi izin berjualan di Alun-alun Selatan dari Keraton Yogyakarta.