oleh

Di Masa Pandemi, Warung Legenda Ini Tetap jadi Favorit

YOGYAKARTA – Pernah menikmati kuliner di tempat satu ini? Di pintu warung ini terdapat papan berukuran besar.

Bertuliskan Warung Makan Jogja Tempo Doeloe “SGPC Bu Wiryo 1959”. Warung ini telah menjadi pelanggan dosen, mahasiswa dan orang-orang yang tinggal di sekitar kampus UGM.

Alamatnya di Jalan Agro CT VIII A 10 Klebengan, Sleman, Yogyakarta. Eksis sejak tahun 1959.

Menyuguhkan kuliner unggulan berupa sop daging sapi dan pecel. Disediakan tempe, tahu, telur asin, bregedel, telur ceplok dan lauk serba tradisonal.

Juga ada berbagai minuman. Ada teh panas, es teh, jeruk panas atau dingin. Sedangkan minuman favorit di SGPC Bu Wiro 1959 adalah minuman kesehatan.

BACA JUGA: 248 Anak di Kota Yogyakarta Kehilangan Orang Tua

PELANGGAN SETIA: Suami-isteri alumnus UGM yang kini tinggal di Bandar Lampung. Foto ini diambil sebelum pandemi. (ninik/zonajogja.com)

Apa lagi kalau bukan jamu beras kencur. Sebelum terjadi pandemi virus corona, warung ini selalu dipenuhi pelanggan. Bahkan, pengunjung harus sabar menunggu kursi kosong.

Warung ini juga selalu meriah. Terdengar tawa di setiap meja. Belum lagi, lagu-lagu yang dilantunkan pengamen di pintu masuk.

Suasananya betul betul menyenangkan. Tak mengherankan, bila warung legenda ini menjadi tempat reuni. Tempat bertemunya orang-orang yang pernah kuliah di UGM.

Namun, sejak wabah COVID-19 melanda Indonesia, warung ini berada di utara Fakultas Pertanian UGM ini terdampak.

Jumlah pengunjung yang datang merosot. Kondisi warung sering terlihat sepi. Omzet selama pandemi mengalami penurunan hingga 50 persen.

Warung SGPC Bu Wiryo 1959 melaksanakan protokol kesehatan pencegahan penularan COVID-19 secara ketat.

Pengunjung wajib memakai masker. Sebelum masuk, dipastikan harus mencuci tangan.

BACA JUGA: 3.000 Orang Ikuti Vaksinasi Drive Thru di UGM

TEMPAT FAVORIT: Menikmati sop daging sapi dalam sepi. (alam/zonajogja.comj)

Dalam situasi PPKM,  warung ini tetap didatangi pembeli meski tidak sebanyak 2 tahun lalu.

Mereka yang datang kebanyakan dosen dan mahasiswa UGM. Atau penduduk luar kota yang pernah kuliah di perguruan tinggi bersebutan kampus biru.

Pengunjung datang dan pergi. Tapi, tidak datang rombongan.

“Kami berharap pandemi segera berakhir. PPKM berakhir pula. Dan kondisi kembali seperti semula,” kata seorang pekerja mengenakan batik dengan prokes yang ketat. (nik/asa)