oleh

Sepi Turis, Tukang Tatto Beralih jadi Petani Ikan

YOGYAKARTA – Hidup laki-laki ini sempat tak menentu setelah terdampak pandemi virus corona. Usaha yang telah eksis selama bertahun-tahun di Bali, Denpasar, akhirnya ambruk.

Nugroho, nama laki-laki itu. Lahir di kampung Pujokusuman MG 1/416.

Pria bertubuh besar ini seorang pekerja seni. Namun, bukan pelukis. Juga bukan seniman tari. Nugroho adalah tukang tatto.

“Dia  itu ahlinya melukis badan. Banyak yang suka dengan karyanya,” kata Bondan, karibnya.

Entah  mengapa, Nugroho tiba-tiba berkeinginan merantau. Ia ingin beradu nasib. Ingin memperbaiki kehidupan.

BACA JUGA: Jangan Lupa, Vaksinasi Dosis 2 AstraZeneca tanggal 17 September

BUDI DAYA NILA: Memanfaatkan tanah pekarangan jadi produktif. (bondan)

Kota yang dipilih adalah Denpasar, Bali. Hanya berbekal semangat dan sejumlah lembar uang di dompet, Nugroho akhirnya pergi ke Bali pada tahun 2011.

Di tempat ini, Nugroho menjadi tukang tatto jalanan. Keluar masuk lokasi wisata.

Namun, waktunya banyak dihabiskan di tempat nongkrong para turis mancanagera. Karena lebih mudah mencari turis yang badannya inggin dilukis.

Namun, kisah Nugroho sebagai tukang tatto di Bali harus berakhir ketika datang wabah virus corona. Pandemi COVID-19 membuat hamper semua tempat wisata di Bali sepi wisatawan domestik dan turis.

Nugroho sebenarnya mencoba bertahan. Tapi, tetap kandas. Usaha yang telah dirintis puluhan tahun di kota perantauan akhirnya gulung tikar.

Keputusan telah diambil.  Ia kembali ke Yogyakarta tahun 2020. Setiba di kota kelahiran, Nugroho tak memiliki pekerjaan alias menganggur.

Hingga akhirnya memilih menjadi petani ikan di perkotaan.  Di halaman rumahnya, Nugroho merintis budidaya ikan nila.

BACA JUGA: Sedekah Bibit Ikan dari Pengantin di Kulon Progo

PEKERJAAN BARU: Nugroho sedang memberi makan ikan nila. (bondan)

Memanfaatkan media terpal sebagai kolam ikan. Ukurannya 1 x 2 meter per segi. Kolam kecil ini disebar benih ikan nila.

“Sudah panen 1 kali,” kata ayah dari Alun Swaragandara Bhumi Dewata.

Hasil panen pertama ikan nila siap konsumsi dibagikan kepada warga sekitar. Nugroho tak berniat menjual hasil panen pertama.

“Bahasanya syukuran,” ujarnya.

Kini, kolam budidaya ikan nila semakin luas.  Nugroho menambah lagi media untuk pembesaran ikan nila.

Bahkan, pria yang tidak banyak bicara ini telah menyiapkan panen kedua. Meski menjadi petani ikan perkotaan, Nugroho masih menyempatkan diri melayani para tamu yang ingin ditatto. (aza/asa)