Headline

Pasien Rabies Berobat di Kota Yogyakarta Masih Tinggi, Begini Penjelasannya

125
×

Pasien Rabies Berobat di Kota Yogyakarta Masih Tinggi, Begini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Anjing menjadi hewan penular rabies utama di Indonesia. Diikuti kucing dan kera. Virus rabies ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan liar. (gemini ai)

Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Kunjungan pasien akibat gigitan hewan penular rabies (GHPR)  di Kota Yogyakarta tetap tinggi meski bukan termasuk wilayah endemis.

“Sampai hari ini juga tidak ditemukan kasus rabies pada manusia di Kota Yogyakarta,” terang Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani (27/1/2026).

Masih tingginya angka pasien kasus rabies karena Kota Yogyakarta menjadi rujukan pelayanan.

Yakni, layanan rabies center di RS Pratama dan Puskesmas Jetis. Pasien yang datang tidak hanya warga Kota Yogyakarta, tetapi juga luar daerah.

Kata Anandi, tidak semua gigitan perlu vaksin. Pertolongan pertama paling penting adalah mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 10–15 menit.

“Namun, layanan tetap kami berikan sesuai indikasi medis,” ujarnya.

DBD Tetap jadi Prioritas

Selain pasien akibat gigitan hewan penular rabies, demam berdarah dengue tetap menjadi prioritas pengendalian.

Pasalnya, Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk wilayah endemis dengue. DBD masih menjadi fokus utama karena  nyamuk aedes aegypti yang adaptif di perkotaan.

Upaya inovatif pengendalian yang dilakukan adalah penyebaran nyamuk ber-Wolbachia yang terbukti menurunkan kemampuan nyamuk menularkan virus dengue.

Namun, Anandi mengajak mengajak masyarakat memaksimalkan pemberantasan sarang nyamuk  yang dilakukan rutin minimal seminggu sekali.

Yakni, menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air,  mencegah gigitan nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan. (*)