Nasional

Inilah Masjid Tertua di Jatinom, Dibangun Ki Ageng Gribig Semasa Pemerintahan Raja Sultan Agung

142
×

Inilah Masjid Tertua di Jatinom, Dibangun Ki Ageng Gribig Semasa Pemerintahan Raja Sultan Agung

Sebarkan artikel ini
MASJID ALIT: Didirikan Ki Ageng Gribig, ulama besar semasa Kerajaan Mataram Islam pada kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo tahun 1613-1645. (azam/zonajogja.com)

Klaten, ZonaJogja.Com – Ada masjid tertua di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Dari cerita turun temurun, masjid yang lokasinya di tengah perkampungan ini dibangun pada abad 17 masehi.

Namanya Masjid Alit. Pendirinya Ki Ageng Gribig, ulama besar semasa Kerajaan Mataram Islam pada kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo tahun 1613-1645.

Ki Ageng Gribig memiliki nama asli Wasibagno Timur atau Syekh Wasihatno. Ada yang menyebut Ki Ageng Gribig masih keturunan Raja Majapahit, Brawijaya V.

Ada pula informasi  yang menyebutkan  Ki Ageng Gribig juga keturunan  Sunan Gresik.

Dalam sejarah dikisahkan, Sultan Agung pernah menyampaikan keinginan mengangkat Ki Ageng Gribig menjadi Bupati Nayaka.

Tetapi, Ki Ageng Gribig menolak. Ia lebih memilih menjadi ulama yang menetap di Jatinom, sekaligus menjadi penasihat spiritual Sultan Agung.

Pertemuan dengan Sultan Agung

TEMPAT IMAM: Dimensinya berukuran lebar 1 meter, panjang 1,2 meter dan tinggi sekitar 1,5 meter. Dinding tembok tempat imam shalat, terdapat motif ukiran menyerupai mahkota. (azam/zonajogja.com)

Berdasarkan cerita turun temurun, pembangunan Masjid Alit  dimulai setelah pertemuan antara Sultan Agung dan Ki Ageng Gribig.

Raja Mataram Islam dan ulama besar ini memang kerap bertemu.

Gua Suran atau Gua Belan disebut-sebut sebagai tempat pertemuan  antara Ki Ageng Gribig dan Sultan Agung.

Belum ada literasi yang menginformasika secara pasti awal pembangunan Masjid Alit. Namun, dalam perkembangannya, Masjid Alit menjadi syiar agama Islam di wilayah Jatinom dan sekitarnya.

Hingga sekarang Masjid Alit tetap berdiri kokoh.  Bangunan utama masjid sekitar 90 meter persegi.

Terdapat ruangan tempat imam shalat. Dimensinya berukuran lebar 1 meter, panjang 1,2 meter dan tinggi sekitar 1,5 meter.

Dinding tembok tempat imam shalat, terdapat motif ukiran menyerupai mahkota.

Tiang penyangga masih asli. Hanya ada beberapa kayu dan atap yang direnovasi karena faktor usia.

“Masjid ini merupakan bangunan cagar budaya. Cuma, papannya sudah tidak ada,” tutur seorang jamaah kepada ZonaJogja.Com (5/2/2026).

Tradisi Sebar Apem

Masjid klasik ini tak hanya menjadi tempat shalat bagi umat Islam  yang tinggal di Jatinom.

Umat Islam yang kebetulan melintasi Klaten menyempatkan diri shalat jamaah.

“Saya tuman shalat di Masjid Alit,” kata Erwin.

Erwin adalah warga Yogyakarta yang kerap shalat di Masjid Alit. Pasalnya, sesekali waktu menengok anaknya yang sedang nyantri di pondok pesantren yang lokasinya tak jauh dari masjid.

Masyarakat Jatinom tak hanya memakmurkan Masjid Alit. Masyarakat juga meneruskan Yaqowiyu atau sebar apem yang dilakukan Ki Ageng Gribig sepulang menunaikan ibadah haji.

Ki Ageng Gribig membagikan oleh-oleh dari Mekah berupa apem. Lalu, apem itu dibagikan kepada masyarakat.

Sejak itu, bagi-bagi apem menjadi tradisi di Jatinom. Dilaksanakan setiap bulan safar. (*)