Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Kota Festival. Inilah branding baru Pemkot Yogyakarta.
Penguatan sebagai Kota Festival terus dilakukan. Antara lain melalui gelar kalender event yang terintegrasi dengan masyarakat.
Wawali Wawan Harmawan Wawan menyatakan, deklarasi Yogyakarta sebagai Kota Festival harus diikuti penguatan konsep, kurasi event, serta kolaborasi lintas sektor agar memberi daya tarik bagi wisatawan.
“Wisatawan datang ke Yogyakarta bukan karena kebetulan ada acara. Tetapi untuk menghadiri event,” kata Wawali pada acara Media Gathering di Kebon Ndelik, hari ini (16/4/2026).
Sampai hari ini, setidaknya sebanyak seribu event telah digelar di Kota Yogyakarta.
Event jadi Rujukan Wisatawan
Namun, belum memiliki kualitas dan dampak optimal. Itulah sebabnya, ke depan perlu dilakukan orkestrasi kegiatan lintas perangkat daerah agar lebih terarah, terkurasi, dan saling mendukung .
Pemkot Yogyakarta ingin menciptakan event yang menjadi rujukan. Misalnya konser besar untuk segmentasi wisatawan mancanegara.
Event seperti ARTJOG juga akan didorong menjadi bagian orkestrasi Kota Yogyakarta.
Event ini memiliki potensi menarik wisatawan, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi pelajar terkait dunia seni dan ekonomi kreatif.
Pemkot Yogyakarta juga telah menyiapkan event pada Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta, Oktober mendatang.
Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) ditargetkan kembali masuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara. Juga ada Wayang Bocah dan Jogja Great Sale.
Wawan menegaskan, kolaborasi dengan pihak swasta bukan berbentuk swastanisasi, tetapi sinergi peran.
“Pemerintah tetap menjadi orkestrator, sementara swasta dan komunitas menjadi mitra dalam memperkuat daya tarik event,” ujar Wawan.
Tahun 2025 Dikunjungi 11 Juta Wisatawan
Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Muh Zandaru Budi Purwanto mengungkapkan, wisatawan yang mengunjungi Kota Yogyakarta selama tahun 2025 mencapai 11 juta orang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 314 ribu adalah turis dengan lama tinggal berkisar 1,77 hari. Rata-rata belanja per orang mencapai Rp 2,28 juta.
“Semakin banyak festival yang tertata, kami optimistis kunjungan wisatawan tahun 2026 dapat melampaui capaian tahun lalu,” kata Zandaru.
Strategi menggandeng 46 kampung wisata dan 45 kelompok sadar wisata semakin menciptakan integrasi yang kuat antara sektor perhotelan dan biro perjalanan melalui paket wisata terpadu.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo menyatakan pentingnya integrasi UMKM dalam ekosistem pariwisata.
UMKM tidak hanya pelengkap. Namun, menjadi bagian pengalaman wisata. Wisatawan bisa melihat proses, memahami cerita di balik produk, hingga mendapatkan nilai lebih dari barang yang dibeli.
Event akan menjadi media promosi utama UMKM. Gebyar UMKM, misalnya. Event ini akan dikolaborasikan dengan penguatan kegiatan di kawasan Malioboro melalui konsep Coffee Night.
“Kami juga menyiapkan pengembangan merchandise resmi yang dikurasi dari sisi desain, kualitas, hingga hak kekayaan intelektual (HAKI). Sehingga mampu meningkatkan daya saing produk lokal,” katanya. (*)











