Gunungkidul, ZonaJogja.Com – JNE menyelenggarakan Touring Bergerak Bersama 2026. Kegiatan CSR kali ini kembali menggandeng Forum Jurnalis Jogja (FJ2).
Touring sepeda motor bertujuan mengantarkan kebaikan JNE ini menempuh jarak sekitar 100 kilometer dengan rute melewati wilayah Sleman, Gunungkidul, dan Bantul.
Berangkat dari kantor JNE Yogyakarta di Sorogenen, Umbulharjo pada Jumat (15/5/2026) pagi.
Kepala JNE Cabang Yogyakarta, Adi Subagyo, berharap touring bukan sebatas mengeksplorasi wisata. Namun, juga memberi manfaat bagi masyarakat.
“Kami mendukung kegiatan teman-teman jurnalis yang mengemasnya lewat kegiatan touring. Kami di JNE juga rutin menggelar touring, serta melakukan bakti sosial. Kami berharap peran media dapat mendukung UMKM di Yogyakarta untuk semakin berkembang,” kata Adi Subagyo.
Acara ini juga diikuti Kepala Cabang JNE Gunungkidul, Apnan Zamhari; dan Marketing Communication & Partnership Regional JTDIY-JTBNN, Widiana.
Kunjungi Panti Asuhan Almarina

Seperti Touring Bergerak Bersama 2025, touring kali ini menyelenggarakan bakti sosial di Panti Asuhan Almarina, Karangmojo, dan eksplorasi pelaku usaha mikro kecil menengah di Katamata & Roastery di Selang, Wonosari.
Usai Adi Subagyo melakukan flag off di Kantor JNE Yogyakarta, rombongan bergerak menuju Gunungkidul.
Melewati wisata Tebing Breksi, Candi Ijo, Obelix dan Gunung Purba Nglangeran.
Lokasi pertama yang disinggahi Panti Asuhan Almarina di Srimpi, Karangmojo. JNE menyerahkan santunan, Alquran dan bingkisan.
Ketua FJ2, Chaidir berharap tali silaturahmi yang terjalin antara jurnalis dan JNE mendatangkan keberkahan melalui kegiatan touring mengantarkan kebaikan.
Pendamping Panti Asuhan Almarina, Alex Andriansah mengatakan, panti dihuni anak-anak, disabilitas, lansia, perlindungan perempuan, dan orang telantar sebanyak 69 orang.
Kompleks panti terdiri sekretariat, sekolah alam, tempat tinggal bagi anak-anak, shelter ibu hamil, disabilitas, gelandangan pengemis, lansia dan panti jompo.
Setelah mengantarkan kebaikan di panti asuhan, para rider melanjutkan perjalanan ke Katamata & Roastery. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari Panti Asuhan Almarina menuju Kota Wonosari.
Setiba di Katamata & Roastery, para jurnalis bincang-bincang dengan Edi Dwi Atmaja. Pria berusia 39 tahun ini adalah owner Katama & Roastery.
Ia memulai bisnis kafe kopi sejak tahun 2016. Sebelumnya, alumnus Fakultas Tekonologi Pertanian UGM ini menjadi dosen di salah satu kampus di Bogor.
Ia juga pernah membuka angkringan. Tapi, tidak sukses. Tahun 2016 menyulap angkringan menjadi kedai kopi.
Awalnya, Edi kesulitan dapatkan kopi bagus. Pernah mendatangkan kopi dari luar.
“Tapi dihitung-hitung harga mahal. Akhirnya memutuskan bikin roastery sendiri. Dan, menjadi coffee shop pertama di Gunungkidul yang memiliki roastery,” ungkap Edi.
Membranding Kopi Gunungkidul

Kopi Gunungkidul yang diracik di Katamata telah diminati di Jawa. Rasanya lebih pahit karena kadar mineral tinggi. Pasalnya, pohon kopi tumbuh di perbukitan karst sehingga tahan kurang air.
Lalu, Edi intens membranding kopi Gunungkidul sebagai andalan roastery. Kedai kopi yang dikelola bersama isterinya lebih banyak menjual varian susu, kreamer atau matcha, sebagai pelengkap non kopi.
Edi bisa mengirim 2-3 kali dalam seminggu dengan berat 5 hingga 10 kilogram. Edi memilih JNE untuk keperluan pengiriman barang.
“Sampai sekarang tetap ke JNE,”kata Edi.
Selain memproduksi kopi Gunungkidul, Edi menyuguhkan kopi dari Aceh Tengah, Enrekang, Priangan, Bondowoso serta Temanggung. (*)











