Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Duabelas jurnalis dari DIY memperingati 200 tahun Perang Jawa dengan cara berbeda.
Perang Jawa terjadi tahun 1825-1830. Perang ini merupakan perjuangan melawan kolonial Belanda yang dipimpin Pangeran Diponegoro.
Akhir pekan kemarin, para jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Jogja (FJ2) ini melakukan touring.
Ini adalah kegiatan touring kali kesekian yang digelar FJ2. Kali ini, touring bertema Muter Muter Jateng – DIY.
“Touring kali ini naik sepeda motoran mengunjungi sejumlah tempat bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah di Jateng dan DIY,” terang Ketua Forum Jurnalis Jogja, Chaidir.
BERITA LAIN: Sosialisasi 4 Pilar Bersama Puluhan Tapak Suci Muhammadiyah, Syauqi Ungkapkan Filosofi Seorang Kstaria

Jurnalis senior yang kini ikut menggarap portaljogja.com ini mengatakan, peringatan 2 abad Perang Jawa menjadi momen penting mengenang sejarah perjuangan bangsa, sekaligus membangun ingatan kolektif.
Itulah sebabnya, acara touring yang didukung 76Rider dan Eiger ini mendatangi beberapa lokasi yang menjadi saksi perjuangan Pangeran Diponegoro.
Touring berangkat dari Museum Pangeran Diponegoro di Kemantren Tegalrejo. Tempat ini dulunya tak hanya menjadi kediaman Pangeran Diponegoro, tapi juga menjadi basis perjuangan melawan Belanda dalam Perang Jawa
Tegalrejo menjadi basis perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda, khususnya selama Perang Jawa.
Selanjutnya, para jurnalis dari berbagai media online bergerak menuju Magelang, Jawa Tengah.
BERITA LAIN: Digagas 76Rider, Bukit Klangon Bakal jadi Arena Persaingan Sengit Para Rider Elite Downhill dan Cross-country

Rute melewati Jalan Godean. Sesampai di Pasar Godean, belok kanan ke Jalan Jae Sumantoro, Jalan Kebonagung, Jalan Nyangkringan hingga melewati Bangunan Cagar Budaya Buk Renteng.
Setelah menyusuri Jalan Klangon-Dekso, berhenti di Gerbang Samudra Raksa di perbatasan DIY-Magelang. Lalu, mampir ke Museum Diponegoro di Magelang.
Didampingi petugas guide, para jurnalis diajak menuju ruangan yang menjadi saksi Pangeran Diponegoro dijebak setelah dilangsungkan perundingan dengan Jenderal De Kock.
Di dinding sebelah pintu masuk terdapat papan bertuliskan “Diponegoro, lahir di Yogyakarta, 11 November 1785, mulai peperangan di Tegalrejo 20 Juli 1825. Kena siasat Belanda, Magelang 28 Maret 1830. Wafat Makasar 8 Januari 1855”.
Di ruangan berukuran sekitar 36 meter per segi, terdapat barang-barang milik Pangeran Diponegoro.
BERITA LAIN: Suarakan Semangat #WorkFromHeart, CIMB Niaga Hadirkan Layanan Perbankan Optimal

Antara lain jubah berbahan kain Santung dari Tiongkok. yang disimpan dalam lemari kaca.
Lalu, Alquran yang juga disampan dalam kaca. Tikar untuk shalat, termasuk kursi yang menjadi tempat duduk Pangeran Diponegoro saat perundingan dengan Jenderal De Kock.
Juga ada lukisan Raden Saleh yang dipajang di dinding. Lukisan mengisahkan penangkapan Pangeran Diponegoro di depan gedung Karisidenan.
Setelah mengulik berbagai sejarah, para jurnalis melanjutkan perjalanan ke Temanggung. Usai shalat di Masjid Agung Darussalam, awak media meneruskan perjalanan terakhir menuju Masjid Langgar Agung Pangeran Diponegoro di Salaman, Kabupaten Magelang.
Jarak yang ditempuh sekitar 38 kilometer. Rute melintasi Jalan Jenderal Suprapto – Jalan Pahlawan – Jalan Raya Pikatan – Jalan Titang – Tembarak Selopampang –Windusari – Jalan Raya Bandongan – Pasar Tempuran – Jalan Magelang- Purworejo, dan berakhir di Langgar Agung Pangeran Diponegoro di Salaman.
Lokasinya di Dusun Kamal, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman. Berada di kompleks MA/MTs Diponegoro.
BERITA LAIN: MilkLife Soccer Challenge 2025 – 2026 Membidik Pesepakbola Putri di 10 Kota

Dikisahkan, dulu masjid ini merupakan hutan belantara. Saat Pangeran Diponegoro hendak berunding dengan Belanda di Magelang, berhenti di tempat ini untuk menunaikan shalat.
Lalu, dibuatlah tatanan batu untuk alas salat. Singkat cerita, pada tahun 1960, Jenderak Sarwo Edi Wibowo memulai pembuatan pondasi masjid. Tempat imam di atas tananan batu.
Setelah ngobrol dengan beberapa narasumber, para peserta touring melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.
“Saya atas nama teman-teman, mengucapkan terimakasih kepada 76Rider dan Eiger yang telah mendukung kegiatan ini,” kata Chaidiri. (*)











