Ngulik Sejarah Kasultanan Yogyakarta, Sultan HB X Sambangi Petilasan Pangeran Mangkubumi di Sragen

Sragen, ZonaJogja.Com – Gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X baru saja mengunjungi Petilasan Sentono di Desa Katelan, Kecamatan Tangen, Sragen, Jawa Tengah.
Sultan juga menyambangi Sendang Sumberan di Desa Japoh, Kecamatan Jenar.
Kunjungan Sultan ke Sragen didampingi Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti; Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi; Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda DIY, Aria Nugrahadi; Kepala Bapperida DIY, Danang Setiadi; dan Bupati Sragen, Sigit Pamungkas.
Ada apa Sultan mengunjungi Petilasan Sentono dan Sendang Sumberan? Kunjungan ke situs sejarah di Kabupaten Sragen ini merupakan rangkaian Muhibah Budaya Yogyakarta untuk mengulik jejak sejarah Kasultanan Yogyakarta.
Dua lokasi situs budaya ini adalah tempat bersejarah yang memiliki historis berdirinya Kasultanan Yogyakarta.
Petilasan Sentono menjadi markas gerilya Pangeran Mangkubumi melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). VOC adalah kongsi dagang Belanda yang didirikan 20 Maret 1602.
Jadi Tempat Gerilya Pangeran Mangkubumi
Selain Sentono, ada situs yang memiliki hubungan sejarah dengan Pangeran Mangkubumi. Yakni, Goa Mangkubumi di Gebang, Masaran. Lokasinya berjarak sekitar 5 kilometer dari Petilasan Sentono.
Tempat ini menjadi persembunyian Pangeran Mangkubumi. Juga ada Pesanggrahan Ponopatan di pinggiran Sungai Bengawan Solo. Lokasi ini menjadi tempat pengintaian pergerakan tentara VOC.
Lalu, Sendang Sumberan di Japoh, Jenar. Tempat persinggahan yang diyakini menjadi lokasi spiritual Pangeran Mangkubumi sebelum dilakukan perundingan Perjanjian Giyanti tahun 1755.
Siapa Pangeran Mangkubumi? Pangeran Mangkubumi lahir 6 Agustus 1717 dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Sujono. Ayahnya bernama Sunan Amangkurat IV.
Pangeran Mangkubumi adalah pendiri sekaligus raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bertahta 1755 hingga 1792 dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Perjanjian Giyanti
Sultan HB I dikenal sebagai sosok peletak dasar budaya Mataram. Seorang pangeran yang memiliki keahlian perang.
Peristiwa Perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755 menjadi awal berdirinya Keraton Yogyakarta.
Perjanjian di wilayah Karanganyar yang merupakan siasat VOC ini memisahkan wilayah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Setelah Mataram dipisah, Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi raja pertama Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sampeyan Dalem Sinuwun Kanjeng Susuhunan Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah.
Bertahta selama 37 tahun, Sultan HB I membawa Kasultanan Yogyakarta menuju masa keemasan dengan memperkuat militer, ekonomi, dan budaya Jawa. (*)
KOMENTAR (0)
PILIHAN REDAKSI
Budi Waljiman Ajak Isi Kemerdekaan Lewat Kerjasama dan Pengabdian Kepada Masyarakat
- 19 Agustus 2026 13:30 WIB
Budi Waljiman berharap peringatan ulang tahun ke-81 Kemerdekaan Indonesia menjadi momentum memperkuat komitmen melanjutkan semangat perjuangan pahlawan.
Percasi Kota Yogyakarta Siap Berlaga di Kejurnas Catur 2026, Urusan Akomodasi jadi Kendala
- 1 Oktober 2026 21:34 WIB
Kontingen dari Kota Yogyakarta dapat kuota tujuh orang. Tetapi yang diberangkatkan lewat pengda hanya dua orang. Ini yang perlu dicari jalan keluarnya
Program Bebas Denda Pajak Kendaraan
- 25 September 2026 19:48 WIB
Program berlangsung hingga 30 September 2026. Siapkan dokumen yang dibutuhkan. Segera datang ke layanan Samsat terdekat
4.940 Mahasiswa Baru UAD Ikuti P2K Prakarsa 2026, Diajak Aktif Berorganisasi
- 15 September 2026 20:26 WIB
UAD tidak hanya berorientasi pencapaian akademik, melainkan memberi perhatian terhadap pembentukan karakter.
Motorola Hadirkan Program “Click n’ Pick Up” di Parade Festival Belanja Erafone 2026
- 26 September 2026 07:18 WIB
Pada Parade Festival Belanja Erafone 2026, Motorola menghadirkan berbagai pilihan smartphone.
Peringati Hari Kemerdekaan Indonesia, Pecinta Alam Gelar Upacara di Monumen Rudal Merapi
- 18 Agustus 2026 10:55 WIB
Saat terjadi erupsi Gunung Merapi tahun 2010, monumen rudal rusak. Tahun 2017, monumen kembali dibangun di Desa Kinahrejo.
Tim Catur Kota Yogyakarta Juara Umum, Dapat 7 Emas 5 Perak 5 Perunggu
- 25 Agustus 2026 19:52 WIB
Kejuaraan tahun ini menjadi ajang mencetak prestasi para pecatur muda, termasuk memburu tiket menjadi atlet daerah yang akan berlaga di tingkat nasional.
Didukung Dana Keistimewaan, OBAJ #4 Dorong Pelajar DIY Mahir Gunakan Bahasa dan Aksara Jawa
- 13 Agustus 2026 21:15 WIB
Peserta yang lolos akan diumumkan di media sosial instagram resmi @_obaj4 tanggal 4 September 2026 pukul 12.00

Saat ini belum ada komentar