Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM ) DIY bekerjasama dengan MPR RI menggelar Dialog Kebangsaan: Peran Kebangsaan Muhammadiyah.
Acara yang diselanggarakan di Burza Hotel Yogyakarta, hari ini (28/6/2026), menghadirkan Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPRI RI, Dr H Abidin Fikri SH MH sebagai pembicara utama.
Ketua Fokal IMM DIY, Saleh Tjan dalam sambutannya mengatakan, penyelenggaraan dialog bersamaan digelarnya Musyawarah Wilayah Fokal IMM DIY.
Selain Abidin, dialog kebangsaan dihadiri Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr H Irwan Akib MPd; Sekjen PP Fokal IMM, Dr Yusuf Warsyim SAg; Ketua PWM DIY, Dr M Ikhwan Ahada SAg MA, dan anggota DPD dapil DIY selama tiga periode yang juga Ketua Umum Tapak Suci Muhammadiyah, M Afnan Hadikusumo.
Abidin dalam ceramahnya selama 30 menit mengatakan, persyarikatan Muhammadiyah memiliki peran penting dalam perjalanan Indonesia.
Muhammadiyah Pembentuk Negara Indonesia

“Sebelum republik ini berdiri, sudah ada Muhammadiyah pada tahun 1912. Saya tegaskan, Muhammadiyah adalah pembentuk negara kita, Indonesia,” kata Abidin disambut tepuk tangan 120 tamu undangan.
Sumbangan tidak ternilai harganya dari Muhammadiyah terhadap berdirinya Indonesia adalah kearifan dan keikhlasan tokoh-tokoh Islam saat merumuskan Pancasila.
Awalnya disebutkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Itu sumbangan dari siapa? Tokoh Muhammadiyah. Siapa namanya? Ki Bagus Hadikusumo. Kalau beliau tidak mempunyai kearifan dan keikhlasan, bangsa kita terpecah belah,” tandasnya.
Muhammadiyah juga meletakkan dasar-dasar pemikiran Islam yang progresif. Dasar pemikiran Islam dalam Muhammadiyah sejak awal adalah Islam berkemajuan.
Bung Karno jadi Santri KHA Dahlan
Itulah sebabnya, presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno saat berusia 15 tahun menjadi santri Kiai Haji Ahmad Dahlan. Pada pengajian rutin di kediaman Haji Oemar Said Tjokroaminoto.
“Bung Karno juga mengaku sebagai orang Muhammadiyah. Tepuk tangan dong buat Muhammadiyah,” ujar Abidin.
Begitu pula dalam implementasi Pancasila, Undang-Undang Dasar, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat pilar itu sudah dipraktikkan Muhammadiyah.
Abidin mengajak aktivis yang bergabung dalam Fokal IMM tidak perlu malu menyatakan diri sebagai warga Muhammadiyah.
Abidin juga mengajak penguatan silaturahim antar anak bangsa dari semua komponen untuk menjaga masa depan Indonesia agar tidak disorientasi. (*)











