Sleman, ZonaJogja.Com – Lembaga Kursus dan Pelatihan (LPK) Suluh Kasih Bangsa bekerjasama dengan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) menyelenggarakan Seminar Completing the Puzzle of Palliative Care: A Multidisciplinary Approach to Holistic Care.
LKP Suluh Kasih Bangsa yang berkantor di Jalan Gunung Kawi, Banjarsari, Surakarta adalah lembaga kursus dan pelatihan terakreditasi “B” yang berfokus pada peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.
Digelar di Auditorium Lantai 3 RS Bethesda Yogyakarta 10 hingga 11 Juli 2026 pukul 08.00 hingga selesai.
Direktur LPK Suluh Kasih Bangsa, Jenny Megawati Sp KGA mengatakan, seminar untuk merespons tingginya beban penyakit kronis dan krisis akses perawatan paliatif di Indonesia.
Seminar juga bertujuan menjembatani kesenjangan literasi klinis dan mendorong kolaborasi interdisiplin dalam sistem kesehatan di Indonesia.
“Seminar ini gratis bagi tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan di seluruh Indonesia,” kata Jenny pada konferensi pers di Pendopo The Bean Garden Palagan, hari ini (9/7/2026).
Laporan The Lancet Commission jadi Alasan Bikin Seminar
Acara ini dihadiri dr Edi Setiawan Tehuteru SpA Subsp HO MHA, Alexandra Huy DO FAAP (Amerika Serikat), Samantha Puckett MD dan Lesca Cherise Hadley MD MBA.
Seminar dilatarbelakangi laporan The Lancet Commission yang menyoroti krisis global bernama “access abyss”. Laporan ini memprakirakan sekitar 47 persen kematian pada tahun 2060 disertai penderitaan kesehatan yang parah.
Ironisnya, 83 persen penderitaan tersebut terjadi di negara berpenghasilan menengah ke bawah, termasuk Indonesia.
Saat ini, status perkembangan paliatif di Indonesia masih berada di level 3a (isolated provision). Artinya, pelayanan masih sporadis, belum merata, dan sering mengalami keterlambatan rujukan (late referral).
“Selama ini, perawatan paliatif kerap disalahartikan masyarakat. Bahkan, sebagian tenaga medis mengganggap sekadar penanda dihentikannya upaya medis,” ujar Jenny.
Padahal, sesuai amanat UU 17 Tahun 2023 dan KMK Nomor 2180/2023, paliatif adalah pendekatan holistik yang harus diintegrasikan sejak dini untuk mengelola total pain pasien.
Yakni, mulai nyeri fisik, distres emosional, masalah sosial, hingga krisis spiritual.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Kata Jenny, menyusun perawatan paliatif paripurna seperti menyelesaikan teka-teki puzzle yang kompleks.
Karena itu, seminar dirancang untuk membangun sinergi lintas profesi antara dokter, perawat, bidan, psikolog, dan tenaga kesehatan masyarakat.
Pembicara seminar adalah pakar nasional dan internasional. Seperti dr Edi Setiawan Tehuteru SpA Subsp HO MHA, Dr dr Muhammad Riza SpA SubSp HO MKes, Wahyu Widiyanto Skep.
Juga ada pakar internasional, seperti Alexandra Huy DO FAAP (Amerika Serikat), Samantha Puckett MD dan Lesca Cherise Hadley MD MBA.
Seminar membahas materi yang sangat komprehensif. Mencakup redefinisi paradigma pediatric palliative care, manajemen nyeri dan dilema etika, terapi seni untuk luka psikologis, perawatan spiritual, strategi advance care planning dan komunikasi klinis empatik.
Membangun Ekosistem Paliatif yang Kuat
Tidak hanya fokus pada klinis. Hari kedua seminar akan diisi panel discussion yang membahas realitas implementasi paliatif di Indonesia.
Diskusi mengupas tantangan berbagai lini. Mulai manajemen rumah sakit, layanan kesehatan primer (primary care), realitas home care, hingga pentingnya pelibatan komunitas untuk membangun compassionate ecosystems di luar dinding rumah sakit.
“Seminar ini adalah wadah strategis untuk membuka kepedulian mengenai paliatif dari segala level masyarakat,” kata Jenny.
Panitia menyediakan kuota 350 peserta dari kalangan dokter, perawat, bidan, psikolog, dan profesi lain yang bergerak dalam layanan paliatif.
Informasi dan pendaftaran bisa menghubungi 0856-2477-8899 atau melalui email di lkpskb@gmail.com. (*)











