Kronika

Baca Naskah Pancasila di Gedung Agung, Budi Waljiman Mengaku Merinding

5
×

Baca Naskah Pancasila di Gedung Agung, Budi Waljiman Mengaku Merinding

Sebarkan artikel ini
MENGHAYATI: Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman saat membaca naskah proklamasi. (instagram/dprd-diy)

Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Suasana khidmat mewarnai pelaksanaan upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Istana Kepresidenan Yogyakarta, Gedung Agung (17/8/2026).

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X  menjadi inspektur upacara. Upacara juga dihadiri Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X; GKR Hemas, GKBRAA Paku Alam X, jajaran Forkopimda DIY, pimpinan OPD, TNI, Polri, aparatur sipil negara, pelajar, dan tamu undangan.

Upacara dimulai saat Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tim Cakra Nanggala memasuki lapangan.

Mereka adalah putra-putri terbaik dari DIY binaan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY.

Pembawa baki bendera merah putih bernama Alantina Navida Neivanaya. Penarik bendera Muhammad Yahya Rizqi Nur Fadhilah, sedangkan  perentang bendera Irsyad Rizqi Fayad.

Komandan upacara peringatan hari  ulang tahun ke-81 Kemerdekaan Indonesia adalah Ajun Komisaris Besar Polisi Imanuhadi.

Komandan Kompi Paskibraka, Kapten Laut Teknik Diki Nugraha, dan Perwira Upacara adalah Ajun Komisaris Besar Polisi Sandhy WG Suawa.

Merawat Kemerdekaan Republik Indonesia

Usai pengibaran bendara merah putih, dilanjutkan pembacaan naskah proklamasi oleh Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman.

Lalu, mengheningkan cipta yang dipimpin Sultan HB X sebelum diakhiri pembacaan doa oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Ahmad Bahiej.

Sultan dalam pidatonya mengatakan 81 tahun kemerdekaan menjadi momentum terus merawat kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu bangsa.

“Delapan puluh satu tahun silam, Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Atas berkah dan rahmatNya, kemerdekaan masih kita rawat hingga detik ini,” kata Sultan.

Sultan yang juga Raja Kasultanan Yogyakarta menyatakan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” dalam peringatan kemerdekaan tahun ini bukan sekadar slogan.

Tetapi, sebagai peta jalan bangsa dan nilai-nilai yang telah lama hidup dalam laku peradaban Indonesia.

Berdaulat merupakan wujud sikap Sangkan Paraning Dumadi. Yakni, kesadaran asal dan tujuan yang menuntun bangsa  berdiri di atas kaki sendiri.

Adil merupakan pengejawantahan Jumangkah Anjantra Laku Memayu Hayuning Bawana. Yaitu, ikhtiar memperindah dan mensejahterakan dunia.

Keadilan adalah keadaan ketika hasil pembangunan dirasakan secara merata, dari kota hingga pelosok kalurahan. Sedangkan makmur merupakan buah dari Gemi Nastiti Ngati-ati, kecermatan dan kehati-hatian dalam mengelola sumber daya.

Ketiga nilai itu tidak berdiri sendiri. Semuanya menyatu dalam laku Nitik-Napak-Nanting. Yakni, mengamati secara saksama, berpijak pada kenyataan, dan bertindak dengan pertimbangan.

“Inilah cara Yogyakarta membangun. Tidak tergesa-gesa, namun juga tidak berhenti melangkah,” ujarnya.

Eling lan Waspada sebagai Kompas

Dalam disrupsi teknologi dan persaingan global yang semakin tajam, Sultan mengingatkan pentingnya semangat eling lan waspada sebagai kompas.

Peringatan ulang tahun ke-81 Kemerdekaan Indonesia dimeriahkan fly pass dua pesawat microlight dari Jogja Flying Club FASI DIY, dan kolaborasi orkestra dan paduan suara.

Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman merasa terharu saat membaca naskah proklamasi.

“Saya merasakan sesuatu. Entah mengapa, saya merinding,” ujar Budi usai upacara.

Bagi Budi yang didampingi  Yeti Wulandari, isterinya,  peringatan ulang tahun ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momentum  terus memperkuat semangat persatuan.

Nilai-nilai Pancasila, gotong royong, serta keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat menjadi landasan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

“Kemerdekaan bukan warisan sejarah. Tapi, tanggung jawab bersama yang harus dijaga dan diisi dengan kontribusi terbaik bagi bangsa,” katanya. (*)