oleh

Muhammadiyah Tawarkan Visi Karakter Bangsa, Primordialisme Hanya Hasilkan Kepemimpinan Perkauman

YOGYAKARTA, ZonaJogja.Com – Siapapun yang akan menjadi calon presiden, cawapres, calon anggota dewan, hingga kelembagaan terkait pemilu, harus membuka kembali lembaran konstitusi dan sejarah bangsa.

“Para calon harus memahami bahwa Indonesia bukan hanya soal kemenangan politik. Tetapi nilai dan cita-cita kebangsaan yang telah diletakkan sejak awal oleh para pendiri bangsa,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir kepada wartawan di kantor PP Muhammadiyah (16/11/2022).

Muhammadiyah akan menawarkan visi karakter bangsa, konsep Indonesia berkemajuan, dan dokumen Negara Pancasila Darul ‘Ahdi wa Syahadah sebagai perspektif bagi para calon.

Perspektif tersebut penting untuk mencegah terjadinya disorientasi politik, seperti ingin meraih kekuasan tetapi lupa pondasi kehidupan berbangsa.

BACA JUGA: Shalat Subuh Jamaah di Masjid Jogokariyan Dapat Voucher, Bisa jadi Alat Transaksi di PRJ

Kata Haedar, penting diwujudkan perpaduan kepemimpinan transformasional yang mengagendakan perubahan dengan kepemimpinan yang bersifat nilai. Bukan berdasar kharisma semata.

“Siapapun yang terpilih nanti, semua harus milik rakyat. Itulah pemimpin yang berkeadilan sosial,” terangnya.

Kepemimpinan berbasis primordialisme hanya akan menghasilkan kepemimpinan perkauman. Bukan kepemimpinan kenegarawan.

Terkait kepemimpinan di Muhammadiyah pasca muktamar, Haedar menegaskan kepemimpinan di Muhammadiyah adalah perpaduan  kepemimpinan yang bersifat kolektif kolegial dan sistem.

“Ibarat bermain bola, yang terpenting adalah irama permainan.Tidak cukup bertabur bintang. Kalau striker semua, ga ada gelanggang dan back yang bagus, ya sering kalah,” kelakarnya.

BACA JUGA: Produk Susu Yili Indonesia jadi Minuman Resmi Peserta Pertemuan Sherpa G20

Kepemimpinan di Muhammadiyah akan dipilih  anggota muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Teknisnya, dari 92 calon, akan dipilih 39 nama. Selanjutnya dipilih hingga  13 nama yang akan menjadi anggota pimpinan pusat Muhammadiyah.

Calon ketua umum akan dibawa ke sidang pleno muktamar untuk disahkan.

Sementara  Aisyiyah akan memilih 39 nama dari 105 calon yang telah diseleksi oleh panitia pemilihan.

Selanjutnya, akan ditawarkan kepada muktamirin. Memilih 13 calon secara langsung atau secara formatur. (*)

 

Komentar