YOGYAKARTA, ZonaJogja.Com – Keramaian pemudik Lebaran tahun ini tidak berbanding lurus dengan keramaian tamu hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penginap hotel pada liburan Lebaran kali ini justru tidak semeriah tahun lalu.
“Okupansinya sekarang ambrol. Hanya 30-40 persen,” terang Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono kepada ZonaJogja.Com, hari ini (26/4/2023).
Angka tersebut merosot jauh dibandingkan liburan Lebaran 2022. Angka okupansi tahun lalu pada kisaran 60-70 persen.
BACA JUGA: Komandan KOKAM DIY: No Materai, Ndak Tuman
Kata Deddy yang juga owner Hotel Ruba Graha, angka okupansi tahun ini unik.
Mengapa? Pemerintah telah mencabut PPKM. Tapi, angka penginap di hotel tidak seperti yang dibayangkan anggota PHRI.
Sementara pada tahun 2022, pemerintah masih memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Tapi waktu itu, okupansinya justru mencapai 70 persen.
“Tahun ini yang sudah tidak ada PPKM, okupansinya malah 30 persen,” ujarnya geleng-geleng kepala.
BACA JUGA: KPU DIY Buka Pendaftaran Balon Anggota DPD RI, Ini Jadwal dan Syaratnya
Deddy yang kini mengelola warung makan “Icik Iwir” ini belum mengetahui persis penyebab turunnya okupansi pada liburan Lebaran tahun ini.
Pengurus PHRI DIY baru akan melakukan evaluasi dalam waktu dekat. Deddy berharap rendahnya okupansi hotel pada liburan Lebaran 2023 menjadi perhatian pemerintah.
“Harus ada sentuhan dari pemerintah agar keberlangsungan hotel bisa berjalan normal,” katanya.
Deddy mengatakan, tidak tercapainya target okupansi tahun ini memberi sederet dampak tidak mengenakkan.
BACA JUGA: Dagingnya Tebal, Tekstur Lembut, Rasanya Gurih
Salah satunya adalah tidak optimalnya manajemen hotel dalam mensejahterakan karyawan.
Deddy berharap, pemerintah mencabut larangan oranisasi perangkat daerah (OPD) dan ASN menggelar kegiatan di hotel, termasuk acara syawalan.
“Saya hanya ingin mengatakan apa adanya. Karena pihak yang punya uang saat ini adalah pemerintah,” kata Deddy. (*)










