Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Bisnis jasa penginapan di Yogyakarta belum baik baik saja meski terlihat wisatawan berjubel setiap libur akhir pekan.
Pada September lalu, tingkat hunian hotel bertengger pada angka 30 hingga 40 persen.
Kondisi ini mengakibatkan beban pengelola hotel, terutama bintang dua ke bawah, semakin berat.
“Pemasukan tidak seberapa, pengeluaran bikin kami nggak bisa apa-apa,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono kepada ZonaJogja.Com, hari ini (13/9/2025).
Deddy berharap, tingkat hunian semakin meningkat. Saat liburan panjang bisa di angka 45 hingga 55 persen. Sedangkan tingkat hunian pada Desember mendatang bisa tembus 80 persen.
BERITA LAIN: CIMB Niaga Resmikan Digital Branch Solo-Slamet Riyadi 136, Integrasikan Layanan Konvensional dan Digital
“Tapi, itu baru sebatas keinginan. Mudah-mudahan terealisasi,” kata Deddy yang juga owner Hotel Ruba Graha.
Lantas, mengapa tingkat hunian hotel di Yogyakarta bergerak lambat? Deddy mengungkapkan beberapa faktor penyebab.
Antara lain dipengaruhi kebijakan penghematan anggaran. Dampaknya, kegiatan yang dilaksanakan di hotel atau restoran juga terkoreksi.
Namun, Deddy tetap optimitis target tingkat hunian 80 persen bisa terealisasi.
“Tapi, ada catatannya,” ujar Deddy.
BERITA LAIN: Bank BPD DIY Syariah dan LazisMu DIY Teken Kerjasama, Bikin Gerakan Peduli Guru
Pemkot Yogyakarta dan empat kabupaten se-DIY harus rajin melakukan kegiatan promosi pariwisata. Juga mengintensifkan event-event pariwisata.
Soal event, Deddy lantas mengungkapkan keprihatinan terhadap pembatalan event Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) tahun 2025.
WJNC adalah pertunjukan kolaborasi seni tari, busana, musik dan permainan lampu.
“Saya sedih mendengarnya. Tapi, bagaimana lagi,” ujarnya melihatkan wajah sedikit gemas.
Padahal, wisatawan yang booking hotel karena ingin menyaksikan WJNC semakin bertambah. Angkanya sekitar 30 persen dari kamar yang tersedia.
Event tahunan WJNC yang dimulai sejak tahun 2016 terbukti memberi dampak positif bagi meningkatnya angkat wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.
BERITA LAIN: Purbaya jadi Menkeu, Didik Madiyono PLT Ketua Dewan Komisioner LPS
Menanggapi Presiden Prabowo Subianto yang menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai menteri keuangan, Deddy berharap pengganti Sri Mulyani bisa menjawab sederet persoalan yang sedang menjadi beban anggota PHRI DIY.
Berharap kebijakan apapun yang akan dilakukan Purbaya bisa memberi dampak positif bagi kehidupan pariwisata di Indonesia, termasuk DIY.
Misalnya menentukan pajak yang tidak membebani hotel dan restoran.
“Jangan lupa. Pajak yang harus kami bayar nggak cuma satu item. Saat ini kami harus ngelus dada karena nilai pajak semuanya naik,” kata Deddy. (*)











