Bisnis

AFPI Gelar Pindar Mengajar di Yogyakarta, Jaga Masyarakat Tak Terjebak Layanan Ilegal

18
×

AFPI Gelar Pindar Mengajar di Yogyakarta, Jaga Masyarakat Tak Terjebak Layanan Ilegal

Sebarkan artikel ini
EKOSISTEM KEUANGAN: AFPI ingin mendorong pemahaman lebih komprehensif tentang konsep responsible lending dari sisi penyelenggara maupun pengguna, agar tercipta ekosistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan. (istimewa)

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) melanjutkan komitmen mendorong literasi dan inklusi keuangan. Kali ini, AFPI memilih DIY sebagai lokasi penyelenggaraan program edukasi Pindar Mengajar.

————–

AFPI mengundang sejumlah wartawan media online  di Yogyakarta menghadiri acara Media Gathering di TIP TAP TOE Restaurant, 6-7 Mei 2026.

Acara ini sebagai penguatan edukasi dan literasi terkait industri fintech lending atau pinjaman daring (pindar) yang berizin, dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Program ini merupakan penyelenggaraan kali ketiga setelah Bandung dan Riau.

Setelah melaksanakan edukasi di kampus, hari kedua dilanjutkan kegiatan media engagement yang didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ketua Umum AFPI, Entjik S Djafar dalam sambutannya mengatakan, program Pindar Mengajar merupakan inisiatif edukasi yang mengedepankan prinsip peningkatan literasi masyarakat mengenai pinjaman daring.

Literasi ini juga menjabarkan pemahaman atas risiko, hak dan kewajiban konsumen, serta pentingnya penggunaan yang bijak dan bertanggung jawab.

“Seiring meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital, penting bagi kami untuk memastikan pemanfaatannya dilakukan secara bijak,” kata Entjik.

Ciptakan Ekosistem Keuangan yang Sehat

EDUKASI PINDAR: Ketua Umum AFPI, Entjik S Djafar mengatakan, program Pindar Mengajar merupakan inisiatif edukasi yang mengedepankan prinsip peningkatan literasi masyarakat mengenai pinjaman daring. (azam/zonajogja.com)

Melalui Pindar Mengajar, AFPI ingin mendorong pemahaman lebih komprehensif tentang konsep responsible lending dari sisi penyelenggara maupun pengguna, agar tercipta ekosistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan.

Direktur Eksekutif AFPI, Yasmine Meylia, menyoroti pentingnya membangun pemahaman yang lebih seimbang di masyarakat terhadap layanan keuangan.

Meylia mengatakan, stigma yang berkembang saat ini sering menempatkan pinjaman sebagai beban.

Padahal dalam praktiknya, pinjaman dapat menjadi solusi finansial  berbagai kebutuhan bila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.

“Pinjaman adalah alat untuk mencapai tujuan finansial, bukan tujuan itu sendiri,” ujar Yasmine.

Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 1 Kantor OJK DIY, Kurnia Febra Mikaza, juga menekankan pentingnya penguatan literasi keuangan di tengah meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital.

Kurnia menyebut program Pindar Mengajar merupakan wujud nyata kolaborasi antara regulator dan industri dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan digital.

“Edukasi seperti ini penting agar masyarakat tidak terjebak layanan ilegal serta memahami risiko dalam berutang,” ujar Kurnia.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Dr Suhada ST MBA IPU QRGP menyambut baik penguatan kapasitas mahasiswa  menghadapi dinamika ekonomi digital.

Suhada mengatakan, perkembangan fintech merupakan keniscayaan dalam transformasi menuju ekosistem digital.

Memanfaatkan Peluang, Mengelola Risiko

PINDAR MENGAJAR: Wujud nyata kolaborasi antara regulator dan industri dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan digital. (istimewa)

“Penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda,  mampu beradaptasi secara cerdas, bijak, dan bertanggung jawab supaya dapat memanfaatkan peluang sekaligus mengelola risikonya,” ujar Suhada.

Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UPN Veteran Yogyakarta, Dr Jamzani Sodik SE MSi  menekankan pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Program Pindar Mengajar berkontribusi mendorong inklusi keuangan melalui peningkatan akses dan pemanfaatan layanan keuangan formal yang aman dan terpercaya.

“Hal ini sejalan upaya nasional memperluas partisipasi masyarakat dalam sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujarnya.

Entjik mengatakan, AFPI  terus  mendorong peningkatan literasi keuangan di berbagai daerah, sekaligus memperkuat pemahaman publik mengenai pentingnya praktik yang bertanggung jawab sebagai landasan dalam memanfaatkan layanan Pindar.

AFPI akan terus memperluas jangkauan program Pindar Mengajar ke berbagai kota di Indonesia sebagai kontribusi industri  mendukung agenda literasi dan inklusi keuangan nasional.

Penyelenggaraan Pindar Mengajar di Yogyakarta didukung sejumlah platform Pindar anggota AFPI. Yakni, Kredit Pintar, Lumbung Dana, Samir, Indodana Fintech, UangMe, Indosaku, Rupiah Cepat, dan Danaku. (*)