Kronika

Joko Mursito jadi ASN “Langka” di DIY, Bergelar Doktor “Terbaik” yang Atensi Budaya dan Pariwisata

15
×

Joko Mursito jadi ASN “Langka” di DIY, Bergelar Doktor “Terbaik” yang Atensi Budaya dan Pariwisata

Sebarkan artikel ini
REFRESHING: Menyempatkan diri meluangkan waktu untuk hobi lama di kolam yang tak jauh dari rumahnya di Pengasih, Kulon Progo. (istimewa)

Kulon Progo, ZonaJogja.Com – Ucapan kepada Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Dr Joko Mursito SSn MM terus berdatangan.

Mereka  memberi ucapan selamat kepada Joko yang baru saja menyandang gelar doktor  setelah menyelesaikan pendidikan S3 di Universitas Negeri Yogyakarta.

Ucapan datang dari bupati, wakil bupati, anggota legislatif, teman sejawat, budayawan, seniman, musikus, organisasi profesi, pelaku pariwisata hingga jurnalis.

Ada yang mengirim karangan bunga di rumahnya di Kapanewon Pengasih. Ada  yang datang menyalami. Ada pula yang menyampaikan ucapan selamat melalui pesan whatsapp.

Tak hanya berpredikat lulusan summa cumlaude dengan nilai IPK 4,00.  Suami Ari Hargiatmi ini juga mendapatkan predikat doktor lulusan “terbaik”.

Joko mempresentasikan disertasi berjudul “Sendratari Topeng Sugriwa Subali di Goa Kiskenda, Kajian Edu Wisata”. Disertasi  yang merupakan elaborasi matra Pendidikan, matra Budaya, dan matra Pariwisata dipaparkan  di depan tim akademik dan tim penguji.

Tim akademik ada nama Prof Dr Suminto A Sayuti dan Prof Dr Kuswarsantyo MHum.

Sedangkan tim penguji  terdiri Prof Dr Yudanto MPd, Prof Dr Sumaryanto MKes AIFO, Dr HR Agung Setyawan ST MSc MM, dan Dr Bambang Saptono MSi.

Seni dan Budaya Bukan Sekadar Pertunjukan Atraksi

Disertasi Joko membedah kesenian lokal di kawasan Goa Kiskenda dari aspek seni pertunjukan, potensi  sebagai media edukasi, dan  penggerak ekonomi masyarakat.

Pejabat eselon II yang saat ini menjabat kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo ini meyakini pengembangan eduwisata berkolerasi positif untuk mendongkrak animo wisatawan datang ke obyek wisata.

Ngilmu iku kelakone kanthi laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Sedya budya pangekes ing dur angkara,” kata Joko usai mengikuti prosesi wisuda 22 Agustus lalu.

Berdasarkan perspektif  Joko, seni dan budaya bukan sekadar pertunjukan atraksi.

Tetapi juga bisa menjadi media pembelajaran yang menyampaikan simbol, sejarah, norma, dan kearifan lokal.

Riset yang dilakukan selama hampir setahun melahirkan teori  yang memposisikan aktivitas budaya sebagai sarana edukasi publik.

“Bagi saya, pengembangan pariwisata berbasis budaya perlu dan harus diintegrasikan dengan aspek-aspek pendidikan,” katanya.

Joko menjabarkan integrasi itu dalam tiga aspek. Pertama, penguatan karakter. Yakni, menginternalisasi nilai sosial, sejarah, dan keagamaan kepada masyarakat, termasuk  wisatawan.

Kedua, pengalaman edukatif.  Yaitu, menjadikan destinasi wisata sebagai ruang belajar terbuka kontekstual.

Ketiga, pemberdayaan ekonomi terintegrasi.  Yakni,  aktivitas budaya yang sarat nilai edukasi yang dapat  menggerakkan perekonomian masyarakat lokal secara berkelanjutan.

Jadi Bahan Diskusi yang Menarik

Disertasi Joko tentang seni budaya, pariwisata dan pendidikan memang aktual. Apalagi dikaitkan dengan Pendidikan Khas Kejogjaan yang diluncurkan Gubernur Sultan HB X pada Mei lalu.

“Ada relasinya. Menarik menjadi bahan diskusi,” kata Azam, pemerhati masalah pariwisata.

Setidaknya, ide dan gagasan Joko bisa eksplore lebih jauh untuk dimanfaatkan sebagai pengembangan pariwisata berbasis keilmuan.

Sekadar diketahui, Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) adalah model pendidikan berbasis budaya dan kearifan lokal Yogyakarta.

PKJ diresmikan Gubernur DIY, Sultan HB X di SMAN 6 Yogyakarta pada Mei 2026. Program  ini membentuk generasi Jalma Kang Utama. Yakni, manusia unggul yang berbudi pekerti luhur dan matang secara batiniah

PKJ adalah model pendidikan yang diintegrasikan  dalam kurikulum seluruh jenjang pendidikan tingkat pendidikan anak usia dini  hingga perguruan tinggi melalui pelajaran Bahasa Jawa dan Seni Budaya. (*)