Kronika

Puluhan Tokoh Masyarakat Hadiri Haul ke-38 Sultan HB IX, Kenang Raja yang Dekat dengan Rakyat

11
×

Puluhan Tokoh Masyarakat Hadiri Haul ke-38 Sultan HB IX, Kenang Raja yang Dekat dengan Rakyat

Sebarkan artikel ini
EGALITER: GBPH Prabukusumo, menuturkan sosok Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ayahnya, adalah raja yang dekat dengan rakyat dan memiliki karakter egaliter. (istimewa)

Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Puluhan orang menghadiri acara Haul ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono IX  di nDalem Prabukusuman di utara Alun-Alun Selatan (2/10/2026).

Acara yang digagas Komunitas Sabtu Pahing ini dihadiri antara lain KH Abdul Muhaimin, KH Jadul Maulana, Ketua IAAI Marsis Sutopo, Prof Popi Inajati Adrisijanti.

M Basyir Zubair, Prof Baiquni, Prof Suminto A Sayuti, Prof Zuli Qodir, Prof Purwo Santoso, Ustaz Khamim Zarkasi, Ir RM Nurdi Antoro, KP Tanto dari Solo, RM Rudi Rejeki Mili.

Juga hadir Yati Pesek, Yani Saptohoedojo dan Oka Mahendra Dewa dari ISI Yogyakarta.

GBPH Prabukusumo, menuturkan sosok Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ayahnya, adalah raja yang dekat dengan rakyat dan memiliki karakter egaliter.

HB IX bukan hanya seorang raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tapi juga tokoh penting dalam perjalanan Republik Indonesia sejak awal kemerdekaan.

Jaga Marwah Keraton 

Seperti diketahui, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memiliki nama kecil Gusti Raden Mas Dorodjatun, lahir di Yogyakarta, 12 April 1912.

Wafat di Washington DC Amerika Serikat pada 2 Oktober 1988.  HB IX menjadi Raja Kasultanan Yogyakarta tahun 1940 hingga 1988.

Koordinator Komunitas Sabtu Paing, Sigit Sugito, mengatakan Haul HB IX bukan sekadar agenda mengenang tokoh sejarah.

Mengingat HB IX merupakan bagian menjaga marwah Keraton dan memahami makna keistimewaan Yogyakarta.

“Haul menjadi ruang refleksi, sejauh mana Yogyakarta mampu menjaga martabat keistimewaan sebagaimana semangat yang pernah ditunjukkan HB IX,” katanya.

Komunitas Sabtu Paing akan menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan HB IX, terutama keberpihakan kepada rakyat, nasionalisme, kesederhanaan, dan tanggung jawab kebangsaan. (*)