Bantul, ZonaJogja.Com – Tahukah Anda? Tepat hari ini pada 271 tahun lalu adalah momen penting bagi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Waktu itu, tanggal 13 Februari 1755 dilaksanakan Perjanjian Giyanti di Desa Giyanti, Karanganyar, Jawa Tengah.
Yakni, perjanjian antara Paku Buwana II dan Pangeran Mangkubumi yang disaksikan pihak VOC.
Perjanjian berisikan pembagian Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Memperingati berdirinya Daerah Istimewa Yogyakarta, Paniradya Kaistimewan menyelenggarakan berbagai kegiatan.
Dimulai hari ini dengan menyelenggarakan seminar Sinau Sejarah Keistimewaan DIY di SMA 1 Kasihan Bantul dengan mengusung tema: Palihan: Tumbuhnya Identitas Jogja.
Acara yang berlangung selama 2,5 jam ini disiarkan langsung melalui saluran Paniradya Kaistimewan di YouTube.
Menghadirkan Ariyanti Luhur Tri Setyarini SH MH (Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY), Muhammad Lazuardi Krisantya SS (Sejarawan), dan Alfonsus Mardani SSos (Sosiolog).
Akibat Politik Adu Domba VOC

Acara diikuti sekitar 60 pelajar, dipandu Ninda Fillasputri. Sejarawan Muhammad Lazuardi Krisantya mengatakan, terjadinya Perjanjian Giyanti akibat politik adu domba yang dimainkan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Lazuardi lantas memperlihatkan peta wilayah kekuasaan Kasultanan Mataram Islam tahun 1642 hingga Geger Pecinan tahun 1742.
“Kegaduhan di Mataram Islam bermula karena intervensi VOC sejak era Amangkurat II,” kata Lazuardi.
Politik adu domba VOC memicu perebutan kekuasaan di Kerajaan Mataram Islam antara Pakubuwana II, Pangeran Mangkubumi, dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa).
Perjanjian Giyanti menandai berakhirnya Kerajaan Mataram Islam sebagai satu kesatuan.
Sosiolog Alfonsus Mardani SSos mengatakan, VOC yang menjadi penyebab pecahnya Mataram Islam.
VOC yang didirikan tahun 1602 adalah kongsi dagang Belanda yang memonopoli rempah-rempah di Asia, termasuk di wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam.
“VOC ingin menguasai tanah di wilayah kekuasaan Mataram Islam dengan cara main catur,” ujar Alfonsus.
Perjanjian Giyanti jadi DNA Mataram
Sekretaris Paniradya Kaistimewan, Ariyanti Luhur Tri Setyarini SH MH yang akrab disapa Rini, menyatakan pentingnya memahami asal-usul Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dimulai dari kronologi Perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755. Selanjutnya proklamasi berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tanggal 13 Maret 1755.
Lalu, pindahnya Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarga dari Pesanggrahan Ambarketawang, Gamping, Sleman ke Keraton Yogyakarta pada 7 Oktober 1756.
Sejarah ini yang kemudian menjadi dasar diperingatinya hari jadi Yogyakarta setiap tahun.
“Inilah pentingnya memahami asal-usul Yogyakarta. Hari ini yang kita pelajari tentang Giyanti. Ini DNA kita. DNA-nya Mataram, DNA-nya Sultan Hamengku Buwono I. Adik-adik punya bekal menjadi pemimpin di masa depan,” kata Rini. (*)











