ZonaJogja.Com – Musyawarah Sungai 2023 mengeluarkan Rekomendasi Karangploso.
Rekomendasi ini berisikan dua pesan. Pertama, pemuliaan sungai-sungai di DIY adalah kerja bersama para pihak.
Pengetahuan tentang sungai dengan dasar spiritual harus dijaga. Harus dikembangkan sesuai tantangan zaman.
Inisiasi komunitas pengetahuan yang menjadi landasan keterhubungan dengan program ekowisata sungai.
BERITA LAIN: ARSSI Minta Pengambilan Sampah di Rumah Sakit jadi Prioritas
Kedua, perlu menginisiasi pranata sosial “bregada jaga kali” yang melibatkan peran aktif warga untuk merawat ekosistem dan ekologi sungai.
“Kami hanya ingin menegaskan, sungai adalah tempat lahir, tumbuh, dan turun-naiknya peradaban,” kata Yani Sapto Hoedoyo mewakili Pelaku Pemajuan Kebudayaan.
Sekadar diketahui, Pelaku Pemajuan Kebudayaan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY menyelenggarakan Musyawarah Sungai 2023.
Acara ini digelar di Art Gallery Sapto Hoedoyo, 26 Juli kemarin. Mengusung tema “Urgensi Sungai untuk Pemajuan Kebudayaan”.
BERITA LAIN: UGM Wisuda 713 Lulusan Pascasarjana, Rektor Bilang Tantangan Makin Kompleks
Agenda penting musyawarah komitmen mewarisi dan akan mewariskan kebudayaan patirtan.
“Bahwa air sungai yang suci dari gunung akan kembali suci saat kembali ke samudera,” kata Ketua Panitia Penyelenggara, Sigit Sugito.
Para pegiat lingkungan dan budaya di DIY berikhtiar merawat panggilan sungai di DIY yang dikenal dengan sebutan Kali Pitu.
BERITA LAIN: Lembaga Penjamin Simpanan Buka Lowongan Kerja, Simak Formasi yang Dibutuhkan
Yakni, Kali Krasak, Kali Boyong (Kali Codhe), Kali Kuning (Kali Gajah Wong), Kali Bedhog, Kali Winongo (Kali Lanang), Kali Tambak Baya, dan Kali Opak.
Sigit mengungkapkan, laku budaya Kali Pitu bukan melulu perkara estetika. Laku budaya patirtan bersama ketujuh sungai adalah kode kekuatan dan pertahanan Mataram dan Nusantara. (*)











