Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Gubernur Sultan Hamengku Buwono X meminta momentum Hari Jadi DIY dapat dimaknai sebagai panggilan batin, untuk terus merawat Yogyakarta.
Harapan tersebut disampaikan Gubernur dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD DIY, hari ini (13/3/2026).
Berdasarkan Perda DIY Nomor 2 Tahun 2024, Hari Jadi DIY dimaknai sebagai peneguhan atas nilai-nilai historis, kultural, dan konstitusional, yang menjadi dasar tegaknya keistimewaan Yogyakarta.
Sultan mengatakan, Keistimewaan DIY lahir dari perjalanan sejarah, kesetiaan kepada bangsa, dan komitmen luhur.
Selalu hamemayu hayuning bawana, merawat keselamatan dan kesejahteraan kehidupan bersama.
“DIY senantiasa menjadi ruang kehidupan yang tenteram, adil, dan bermartabat,” pinta Gubernur.
Bisa memadukan keluhuran tradisi dan dinamika perubahan, serta menghadirkan tata pemerintahan yang berpijak nilai-nilai kebijaksanaan, dan keberpihakan kepada rakyat.
Pesan Mendalam
Pada peringatan hari jadi ke-271, DIY mencanangkan cita-cita yang terbingkai dalam tema “Mulat Sarira, Jumangkah Jantraning Laku”.
Tema tersebut mengandung pesan mendalam mengenai perjalanan masyarakat dan pemerintahan dalam menata masa depan.
Mulat sarira bermakna menengok dalam diri. Laku refleksi yang jujur dan penuh kesadaran mengingat kembali perjalanan, memahami kekuatan yang dimiliki, sekaligus menyadari kekurangan yang perlu diperbaiki.
Dari refleksi, lahir jumangkah yang berarti keberanian melangkah maju. Langkah yang bukan hanya bergerak, melainkan langkah yang dilandasi kesadaran, keteguhan niat, dan arah yang jelas membangun kehidupan bersama yang lebih baik.
Sedangkan jantraning laku menggambarkan konsistensi dalam gerak perubahan.
Yakni, ikhtiar perbaikan secara terus-menerus, terjaga ritmenya, dan terpelihara keberlanjutannya.
“Kemajuan tidak lahir dari langkah sesaat, melainkan dari kerja yang tekun, terencana, dan berkesinambungan,” kata Sultan. (*)











