oleh

Inilah Lukisan Sidik W Martowidjojo yang Bisa Menentramkan Batin

SLEMAN  – R Sidik W Martowidjojo. Pelukis gaek ini tetap produktif meski usianya 84 tahun. Ia tetap melukis. Melukis dan melukis.

Tatkala Indonesia sedang diguncang wabah virus corona, pelukis berambut putih ini tetap enerjik di rumahnya di Jalan Komplek Colombo 12 Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Ia baru saja merampungkan sejumlah lukisan fenomenal. Kini, Sidik  yang dikenal sebagai pelukis spesialisasi lukisan gaya Tiongkok digabung teknik lukis ala Barat ini menggelar pameran tunggal.

Pameran bertajuk “Sidikscape”.  Sejumlah lukisan dipajang di Pit Mabuk Art Venue, Jalan  Komplek Colombo 12, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman.

BACA JUGA: Pemkot Yogyakarta Konsentrasi Turunkan Mobilitas di Permukiman

BEDA GENERASI: R Sidik W Martowidjojo dan Kuss Indarto. (azam/zonajogja.com)

Siapa Sidik W Martowidjojo? Pertanyaan itu pagi tadi menjadi diskusi dengan jurnalis. Acara ini dipandu Kurator Seni Rupa, Kuss Indarto.

Juga hadir R Sidik W Martowidjojo yang didampingi manajer pameran, Titi Widiningrum.

Kuss mengungkapkan, Sidik adalah pelukis Indonesia pertama yang memperoleh  penghargaan  dari Louvre International Art di Carrousel du Louvre, Paris, Prancis pada Desember 2014.

Yakni, penghargaan Medaille d’Orc Peinture untuk lukisan pemandangan. Lukisan ini juga memperoleh Medaille d’Orc sebagai juara umum.

Karya Sidik yang berjudul “Jalan” dinugerahi Painting Gold Prize.

Sidik lahir  di Malang, 24 September 1937. Ia memiliki nama Tionghoa; Ma Tong Qiang. Kata Kuss, lukisan Sidik lebih banyak mengeksploitasi pemandangan alam.

BACA JUGA: Waduh, Pasien COVID-19 Meninggal Dunia di DIY Naik Lagi

“Beliau menuangkan apa saja yang dilihat melalui lukisan di media kertas,” ujar Kuss.

Kertas itu bernama shientze. Mengapa menggunakan kertas? Sidik menjelaskan, shientze dapat bertahan hingga ribuan tahun tanpa restorasi.

Cat  akan menyatu dengan kertas.

“Berbeda dengan cat  yang menempel pada kanvas. Bisa mengelupas  setelah dimakan waktu,” terang Sidik.

Pada dialog ini, Sidik sempat ditanya kisah dirinya disebut seniman “Pit Mabuk”. Sebutan itu bermula ketika Sidik mencelupkan kuas (baca: pit) dalam cat air.

Lalu, kuas itu digoreskan di kertas shientze. Inilah keahlian Sidik, hingga mendapat julukan seniman “Pit Mabuk”

BACA JUGA: Yosi Monceli; Pebisnis yang Sedang Sibuk jadi Relawan Oksigen

LUKISAN BESAR” Seorang penikmat lukisan menikmati karya Sidik. (azam/zonajogja.com)

Pada tahun 1993, Sidik mengunjungi Tiongkok. Ia mempelajari berbagai lukisan karya para maestro Tiongkok.

Lima tahun kemudian, Sidik menggelar pameran tunggal kali pertama di Griya Kencana, Yogyakarta. Sejak tahun 2000, Sidik menggabungkan teknik lukis Barat dan lukis Timur. Lukisan ini menyampaikan pesan tentang sepi, ketenangan dan harmoni.

Kuss mengatakan, Sidik telah menggelar puluhan pameran tunggal dan pameran bersama. Karyanya pernah dipamerkan di Millenium Gallery, Beijing, Tiongkok.

Lukisannya pernah dipajang di National Art Museum of China (NAMoC) Beijing.

Kuss menyebut, Sidik adalah pelukis pertama dari Indonesia yang menembus kurasi NAMoC dengan karya berbasis chinese painting. (aza/asa)