Tutup
Headline

Kenaikan Suhu Global Bikin Dampak Perubahan Iklim Makin Parah

114
×

Kenaikan Suhu Global Bikin Dampak Perubahan Iklim Makin Parah

Sebarkan artikel ini
BANJIR: Hujan deras beberapa waktu lalu membuat Kali Gawe di Jalan Wonosari meluap. (azam/zonajogja.com)

SLEMAN, ZonaJogja.Com – Fenomena cuaca ekstrem  di Indonesia akibat perubahan iklim cenderung meningkat.

Indikasinya antara lain meningkatnya frekuensi bencana banjir, sering terjadi bencana kekeringan, dan mundurnya masa musim hujan.

Advertisiment
Scroll ke bawah untuk berita selengkapnya

Diprediksi dalam rentang dua puluh tahun ke depan dampak perubahan iklim jauh lebih parah karena kenaikan suhu global yang lebih tinggi.

“Banyak lembaga internasional yang memprediksi  suhu akan meningkat. Hawa panas di mana-mana di belahan bumi ini,” kata Dosen Laboratorium Hidrologi dan Klimatologi Lingkungan, Fakultas Geografi UGM, Dr  Andung Bayu Sekaranom SSi MSc.

BACA JUGA: LPS Sosialisasi Literasi Keuangan di Kampus, Mahasiswa Bertanya Begini

Andung membeberkan prediksi tersebut pada  seminar “Prediksi Musim: Antara Variabilitas dan Perubahan Iklim” di ruang Auditorium Merapi Fakultas Geografi UGM (24/3/2023).

Negara di daerah tropis dan subtropis akan mengalami peningkatan temperatur dan peningkatan curah hujan.

Andung mengingatkan perubahan iklim dapat berpotensi menjadi katalis perubahan cuaca ekstrem yang terjadi dalam jangka pendek.

Namun sering terkendala keterbatasan data untuk dianalisis.  Sementara persepsi masyarakat terkait dampak perubahan iklim  tidak sama.

Penyebabnya tak lain karena  faktor usia, lokasi tempat tinggal dan tingkat pendidikan, sehingga penting konfirmasi persepsi dengan data.

BACA JUGA: Satpol PP DIY Segel Kafe di Minomartani, Penyebabnya Ini

“Kita butuh data lebih detail seberapa besar dampak dari perubahan iklim ini,” ujarnya.

Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Pusat, Supari SSi MSc PhD mengungkapkan data layanan informasi cuaca di BMKG  menggunakan data observasi 42 radar,  113 meteorologi station, 102 upper air station, 14 marine meteorologi station, dan lebih 1.200 automatic weather station (AWS).

Data observasi menginformasikan kondisi cuaca di permukaan, atmosfer,  kondisi angin, suhu, tekanan dan kelembaban udara.

Lalu, tim melakukan asimilasi data dengan menggabungkan semua data pengamatan yang dikonversi menjadi model prakiraan. (*)

.