BANTUL, ZonaJogja.Com – Acara Inklusi dan Literasi Keuangan 2023 di Pendopo Parasamya Kabupaten Bantul, Jumat (12/5/2023) pagi menjadi ajang sharing para pelaku UMKM.
Terutama terkait manfaat QRIS. Peserta antusias melontarkan pertanyaan kepada narasumber yang menyampaikan materi seputar tema Meningkatkan Cakap Keuangan Perempuan Bantul.
Ada tiga narasumber yang dihadirkan. Yakni, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi.
Juga hadir Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta; dan Kepala Eksekutif LPS, Lana Soelistianingsih.
BERITA LAIN: Kejagung Tahan 6 Tersangka Kasus Korupsi PT Graha Telkom Siaga

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi yang akrab disapa Kiki menyampaikan materi pentingnya literasi keuangan.
Para pengusaha, juga pelaku UMKM, harus memahami informasi tentang perbankan.
Terutama mengenai teknologi aplikasi keuangan. QRIS, misalnya.
“Pada tahun 2024, targetnya 94 persen masyarakat sudah memahami literasi keuangan,” kata Kiki.
Kata Kiki, OJK saat ini fokus melakukan pendidikan mengenai inklusi keuangan terhadap pelaku UMKM.
Berdasarkan survei OJK, tingkat inklusi keuangan kaum perempuan masih lebih kecil dibanding pria.
BERITA LAIN: Yogyakarta Berpredikat jadi Kota Lengkap, Apa Manfaatnya bagi Masyarakat?

Kepala Eksekutif LPS, Lana Soelistianingsih menyampaikan kemudahan menggunakan QRIS.
Ia mengatakan, QRIS sangat diperlukan untuk transaksi di era digital. QRIS mempermudah masyarakat melakukan transaksi.
“Tidak perlu membawa uang tunai. Dimanapun bisa melakukan transaksi,” ujar Lana.
Lana juga meminta masyarakat tidak khawatir menyimpan uang di bank. Karena LPS memberi penjaminan kepada simpanan nasabah di bank sampai Rp 2 miliar.
Penjelasan tersebut disambut para peserta. Hastuti, misalnya. Pelaku UMKM yang memproduksi batik ini mengungkapkan statamen Lana sangat melegakan.
“LPS bisa menjamin uang simpanan nasabah hingga Rp 2 miliar bila bank bermasalah. Saya sebagai pelaku UMKM merasa ada kenyamanan dan aman nyimpan uang di bank,” ujarnya. (*)











