Kronika

Warga Bisa Mandi Sehari Sekali Dianggap Mewah, BRI Wates Sumbang 150 Ribu Liter Air Bersih

461
×

Warga Bisa Mandi Sehari Sekali Dianggap Mewah, BRI Wates Sumbang 150 Ribu Liter Air Bersih

Sebarkan artikel ini
SUMRINGAH: Penduduk mengauci jempol terhadap kepedulian BRI Wates memberikan bantuan air bersih. (humas bri wates)

ZonaJogja.Com – Bank Rakyat Indonesia (BRI) Wates menyalurkan bantuan 150 ribu liter air bersih kepada warga Kabupaten Kulonprogo.

Mereka tinggal Kapanewon Kokap,  Girimulyo dan Kalibawang.

BRI bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo untuk menentukan lokasi penyerahan bantuan.

Masing-masing kapanewon mendapatkan  10 tanki.  Kapasitas per tanki  5.000 liter.

Bantuan air bersih langsung dimasukkan dalam bak tandon air yang berada di pinggir jalan dan mushola.

BERITA LAIN: Ladha Resto, Tempat Kuliner Enak di Jogja Selatan, Sekarang Ada Menu Bakmi Jawa

Penyerahan bantuan  secara simbolis dilakukan Pimpinan Cabang BRI Wates, Sri Susilo di RT 4 Dukuh Sangon II, Kalurahan Kalirejo, Kapaneon Kokap.

Bantuan air bersih merupakan BRI wujud  corporate social responsibility terhadap terjadinya kekeringan di mana-mana.

“Kita semua berharap Allah SWT segera menurunkan hujan,” kata Sri Susilo.

Penyaluran air bersih dilakukan sesuai kapasitas bak penampungan  yang dimiliki warga, sehingga masyarakat bisa menghemat air.

BERITA LAIN: Rektor UGM Dinobatkan (Lagi) Pemimpin Terpopuler di Medsos, Satria Ardhi Nugraha Dapat Gold Winner

CSR: Pimpinan Cabang BRI Wates, Sri Susilo membagikan air kepada wargaRT 41 Dukuh Sangon II, Kalurahan Kalirejo, Kapanewon Kokap, 25 Oktober lalu. (humas bri wates)

Staf Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD, Suyatno mengatakan pengiriman bantuan air bersih dari BRI  menyesuaikan dengan jadwal yang telah disusun BPBD.

Ketua RT 41, RW 12 Sangon II, Heritriyatno menyampaikan terima kasih kepada BRI.

Selanjutnya, distribusi air bersih menggunakan selang yang disalurkan ke rumah penduduk.

Satu malam, air disalurkan ke rumah warga. Malam berikutnya ke rumah yang lain.

“Kalau airnya terbatas, pembagian berdasarkan jam,” kata Heritriyatno.

Selama kekeringan, warga bisa mandi satu kali sehari sudah dianggap mewah.

Karena penduduk lebih banyak tidak mandi. (*)