Kampus

Hari Ini, 3 Guru Besar Dikukuhkan, Kini Universitas Ahmad Dahlan Miliki 52 Profesor

335
×

Hari Ini, 3 Guru Besar Dikukuhkan, Kini Universitas Ahmad Dahlan Miliki 52 Profesor

Sebarkan artikel ini
SRIKANDI UAD: Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Dr Norma Sari SH MHum (tengah) foto bersama Prof Dr Rina Ratih Sri Sudaryani MHum dan Prof Sulistyawati SSi MPH PhD. (istimewa)

Bantul, ZonaJogja.Com – Dosen bergelar profesor di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta bertambah lagi.

Hari ini, tiga dosen dikukuhkan menjadi guru besar pada  Sidang Terbuka Senat yang diselenggarakan di Ruang Amphitarium, Gedung Utama Kampus IV UAD.

Yakni, Prof Dr Julan Hernadi MSi dalam Bidang Matematika Komputasi, Prof Dr Rina Ratih Sri Sudaryani MHum ( Bidang Sastra dan Gender), dan Prof  Sulistyawati SSi MPH PhD (Bidang Epidemiologi dan Sistem Kesehatan).

Kini, UAD memiliki 52 profesor. Sementara empat dosen menunggu surat keputusan pengangkatan.

“Kami terus melakukan program pendampingan guru besar, sekaligus mengawal,” kata Rektor UAD, Prof Dr Mukhlas MT.

BERITA LAIN: Kandang “Merah Putih” Charoen Pokphand Indonesia Bantu Masyarakat Disabilitas

Rektor Mukhlas memberi apresiasi terhadap dedikasi dan kontribusi tiga guru besar yang baru dikukuhkan.

Kepala LLDikti Wilayah V, Prof Setyabudi Indartono MM PhD  juga memberi apresiasi kepada tiga dosen yang bersebutan guru besar.

“Menjadi bukti gender tidak menjadi hambatan untuk berprestasi,” kata Setyabudi.

Lantas, apa karya tiga dosen yang baru saja menyandang gelar guru besar ?

Prof  Dr Julan Hernadi MSi menyamaikan makalah berjudul “Matematika Komutasi dalam Pengembangan Artificial Intelligence”.

BERITA LAIN: Dinas Perinkopukm Kota Yogyakarta Siapkan Strategi Jitu, Koperasi dan UMKM Bakal Makin Prospektif

“Teknologi AI akan semakin canggih. Mereka sudah mengadopsi pendekatan cognitive science untuk bidang spesifik. Mereka tidak lagi dilatih dengan campuran data “sampah” dunia maya, tapi sudah “menyedot” langsung dari otak orang-orang cerdas seluruh dunia,” beber Profesor Julan.

Bahkan, era komputer kuantum yang tak lama lagi hadir akan membuat AI semakin “gila”.

Pada sidang senat terbuka, Prof Dr Rina Ratih Sri Sudaryani MHum mengungkapkan penelitian tentang perempuan sebagai bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat.

Profesor Rina mewancarai anak perempuan SMP dan SMK swasta yang putus sekolah karena menikah.

Anak itu menjawab malas belajar, malas mengerjakan “pekerjaan rumah” yang sulit. Ia lebih suka bermain.

BERITA LAIN: Danrem 072/Pamungkas Canangkan Pertanian di Perkotaan

Ada juga yang mengaku menikah karena dipaksa  orang tua untuk meringankan beban keluarga.

Pengakuan lain, menikah karena keinginan sendiri karena dapat uang jajan dari suami.

Juga ditemukan anak yang menikah karena hamil. Namun ada pula yang beralasan ingin menikah muda setelah melihat teman-temannya yang menikah muda menjalani hidup “baik-baik” saja.

“Lima kecenderungan tersebut tampak perkawinan perempuan di bawah umur mengabaikan persyaratan Undang Undang Perkawinan, menghilangkan masa bermain anak, meningkatkan angka kematian ibu dan bayi,” kata Profesor Rina.

Sementara Prof  Sulistyawati SSi MPH PhD melakukan penelitian mengenai sakit malaria di Kulon Progo.

Muhammadiyah memberi perhatian kuat terhadap berbagai persoalan kemanusiaan. Antara lain penguatan masyarakat dan pelayanan kesehatan. (*)