Inilah Masjid Tertua di Indonesia, Dibangun Tahun 1288 Masehi

SETELAH tertunda berkali-kali, akhirnya Kamis (30/10/2025) kemarin, saya berkesempatan melihat lebih dekat masjid tertua di Indonesia berdasarkan literasi yang sudah beredar.
Namanya masjid Baiturrahim di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Masjid yang berada di lereng pegunungan ini juga dikenal bernama Masjid Saka Tunggal.
Saya berangkat dari Yogyakarta jam 07.19. Seperti biasanya, touring kali ini ditemani Suzuki Satria Fufi.
Melewati Kota Wates, Jalan Dandels, Kebumen, Gombong, Sumpyuh, Kemranjen, dan tiba di Desa Cikakak pukul 10.56.
BERITA LAIN: Bikin Paguyuban “Warok Argomulyo”, Warga Samben Lestarikan Kesenian Reog

SAKA TUNGGAL: Bukti pembangunan Masjid Saka Tanggal tertulis pada tiang utama penyangga masjid yang menyebutkan angka 1288 Masehi. (Azam/ZonaJogja.Com)
Lokasi desa ini berjarak sekitar 172 kilometer dari Kota Yogyakarta. Suasana tampak sepi saat melewati perkampungan menuju lokasi masjid Baiturrahim.
Terminal juga tampak lengang. Hanya terlihat beberapa warga sedang ngobrol di salah satu warung sembako.
Saya juga melihat setiap halaman depan rumah terdapat bekas ban luar sepeda motor. Ada yang ditempatkan depan pintu, di jendela, ada pula yang digantung di pohon.
Setelah parkir kendaraan, saya istirahat sebentar sembari melihat pemandangan sekitar masjid. Ternyata, saya melihat pemandangan serupa.
Rumah-rumah yang terletak di selatan masjid juga dipenuhi ban-ban bekas. Teras masjid, termasuk pintu menuju tempat wudhu juga ada ban-ban bekas.
BERITA LAIN: Kasus Kecelakaan Kerja di Indonesia Tembus 2.500 Orang per Hari

CAGAR BUDAYA: Dinyatakan sebagai bangunan cara budaya pada tahun 2019. (Azam/ZonaJogja.Com)
Bahkan, sejumlah jok sepeda motor, termasuk tempat sepatu dan sandal juga diberi ban bekas.
Tak lama kemudian, saya melihat mobil turun menuju halaman masjid. Dua anak muda keluar dari mobil.
Lalu, mereka juga mengambil ban yang ditempatkan di spion dan atap kendaraan.
Saya pun menghampiri keduanya. Setelah mengenalkan diri, saya bertanya tentang ban bekas yang terlihat di mana-mana.
“Ban-ban ini fungsinya untuk melindungi kemungkinan diganggu kawanan kera,” ujar Dani.
Dani yang lahir di Banyumas adalah mahasiswa Jurusan Arkeologi UGM yang sedang KKN di Purwokerto.
BERITA LAIN: Fortinet Indonesia Sukses Gelar Cybersecurity Forum

SERAMBI MASJID: Nyaman dan sejuk. (Azam/ZonaJogja.Com)
Mendengar penjelasan itu, saya melihat kanan-kiri. Ternyata tidak ada satupun kera yang terlihat.
“Keranya masih ada?” tanya saya penasaran.
“Banyak om,” jawab Dani.
Karena cuacanya mendung, kera-kera memilih berada di hutan. Tapi, jika cuaca panas, kera-kera dalam jumlah banyak akan turun ke pemukiman penduduk, termasuk di kawasan masjid.
Betul juga. Setelah hujan reda dan langit mulai terlihat cerah, kera-kera bermunculan. Termasuk mendatangi kami yang berada di teras masjid.
“Kera-kera ini turun mencari makan, om,” terang Udin.
Tak lama kemudian, terdengar adzan dzuhur berkumandang dari kejauhan. Setelah menunaikan shalat berjamah, saya melihat lebih dekat kondisi masjid yang didirikan tahun 1288 masehi.
Bukti tersebut tertulis pada tiang utama penyangga masjid. Berdasarkan informasi warga setempat dan sumber literasi lain, Masjid Saka Tunggal didirikan Kiai Mustolih yang tinggal di Desa Cikakak.
BERITA LAIN: Anak Anak Muda Inspiratif di Kota Yogyakarta Terus Bertambah, 15 Pemuda Pelopor Terima Penghargaan

PELINDUNG Ditempatkan di jok sepeda motor untuk melindungi dari kemungkinan gangguan kera yang mencari makan. (Azam/ZonaJogja.Com)
Luas masjid sekitar 100 meter per segi. Dinding masjid bukan berupa batu bata. Tapi, kombinasi bambu dan kayu.
Di timur masjid terdapat toilet dan tempat wudhu pria dan wanita. Kubah masjid terlihat sudah berumur. Tapi, tidak ada satupun pengeras suara.
Masjid yang telah berusia 737 tahun ini mempertahankan tradisi memukul bedug untuk menandai waktu shalat. (*)
Diceritakan oleh Azam Sauki Adham (Pemimpin Redaksi ZonaJogja.com)
KOMENTAR (0)
PILIHAN REDAKSI
Operasi Gabungan Gagalkan Penyelundupan 1,3 Ton Ketamine di Perairan Natuna
- 9 Agustus 2026 20:11 WIB
Tim gabungan Joint Operation selanjutnya akan mengintensifkan pemeriksaan terhadap para tersangka.
Peringati Hari Kemerdekaan Indonesia, Pecinta Alam Gelar Upacara di Monumen Rudal Merapi
- 18 Agustus 2026 10:55 WIB
Saat terjadi erupsi Gunung Merapi tahun 2010, monumen rudal rusak. Tahun 2017, monumen kembali dibangun di Desa Kinahrejo.
Didukung Dana Keistimewaan, OBAJ #4 Dorong Pelajar DIY Mahir Gunakan Bahasa dan Aksara Jawa
- 13 Agustus 2026 21:15 WIB
Peserta yang lolos akan diumumkan di media sosial instagram resmi @_obaj4 tanggal 4 September 2026 pukul 12.00
Percasi Kota Yogyakarta Siap Berlaga di Kejurnas Catur 2026, Urusan Akomodasi jadi Kendala
- 1 Oktober 2026 21:34 WIB
Kontingen dari Kota Yogyakarta dapat kuota tujuh orang. Tetapi yang diberangkatkan lewat pengda hanya dua orang. Ini yang perlu dicari jalan keluarnya
Besok Gelaran WJNC di Jalan Malioboro, Jalan Ditutup Mulai Jam 13.00
- 6 Oktober 2026 07:57 WIB
Parade diberangkatkan dari Gedung DPRD DIY menuju Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Bikin Foto Tahun 80an di Sosmed, Ini Caranya
- 10 September 2026 06:27 WIB
Setelah foto diunggah, tunggu proses. Tak sampai 1 menit, foto yang diunggah akan tampil ala tahun 80an.
Enam Senator Kunjungi Sekolah Rakyat di Kulon Progo, Pastikan Tepat Sasaran bagi Anak Anak dari Keluarga Miskin
- 9 September 2026 08:47 WIB
Program untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan ini diselenggarakan dengan tiga aspek tujuan.
Acaranya Keren, Desain yang Dipamerkan Bagus Bagus
- 17 jam yang lalu
Jogja Fashion Rendezvous 2026 merupakan kolaborasi ASMAT PRO Group bersama Jogja City Mall.

Saat ini belum ada komentar