Beranda » Kampus » Mahasiswa UGM Teliti Tari Lengger Lanang yang Distigma Buruk, Ini Hasilnya

Mahasiswa UGM Teliti Tari Lengger Lanang yang Distigma Buruk, Ini Hasilnya

Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora (RSH) UGM melakukan penelitian terhadap legenda Tari Lengger Lanang Banyumas.

Tim ini beranggotakan Moch Zihad Islami (Filsafat 2018), Bety Oktaviani (Antropologi 2017), Doni Andika Pradana, Danu Saifulloh Rahmadani (Filsafat 2020) dan Wahida Okta Khoirunnisa (Filsafat 2020).

Mereka melakukan penelitian selama 3 bulan. Tema yang diangkat Eksplorasi Nilai-Nilai Filosofis Tari Lengger Lanang Banyumas dalam Upaya Pemertahanan Kebudayaan Cross-Gender di Indonesia.

Apa yang ditemukan? Berikut catatannya.


TARI Lengger Lanang Banyumas merupakan kebudayaan lintas gender di Indonesia. Disebut cross-gender karena pelakunya laki-laki  berpenampilan perempuan.

Tarian ini secara etimologi tersusun dari dua kata. Yakni, leng dan jengger yang memiliki arti disangka perempuan ternyata seorang laki-laki.

Tari Lengger adalah kesenian masyarakat agraris Banyumas. Tari Lengger Lanang dianggap memiliki unsur magis-religius pada upacara setelah panen raya.

Tarian ini juga distigma buruk oleh masyarakat. Dianggap menyebarkan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

BACA JUGA: Operasikan Mobil Ungu, Targetkan Vaksinasi 6.500 Dosis Per Hari

Persepsi buruk terhadap Tari Lengger Lanang pun bermunculan. Riset tirto.id terhadap 1.005 responden masyarakat Indonesia pada tahun 2019  menunjukkan data 11,54 persen berpendapat Tari Lengger Lanang harus dihapus.

Sementara 57,21 persen berpendapat perlu dilestarikan dengan penyesuaian. Sebanyak 12,84 peren tidak peduli.

Hanya 17,11 persen berpendapat harus dilestarikan. Sedangkan jawaban lainnya sebanyak 1,29 persen.

“Pandangan buruk terhadap Tari Lengger Lanang mengakibatkan bias gender dalam kesenian,” ungkap Moch Zihad Islami seperti dilansir ugm.ac.id.

Padahal, kesenian sebagai unsur kebudayaan hadir dalam bentuk simbol yang secara estetis mengungkapkan nilai filosofis.

Penelitian menggunakan perspektif interdisipliner ilmu filsafat dan antropologi. Dari perspektif ilmu filsafat, penelitian menggali nilai.

Sedangkan dari  antropologi, penelitian mengungkap dinamika yang dialami  pelaku dan institusi Tari Lengger Lanang Banyumas.

BACA JUGA: Dukung Ketahanan Pangan, Mahasiswa UMBY Ajari Anak Muda Lakukan Budikdamber

“Para penari Lengger terkadang didiskriminasi karena dianggap menyalahi kodrat. Yakni, laki-laki berdandan seperti perempuan,” lanjut Zihad.

Bety Oktaviani menambahkan, ditemukan fakta ada keluarga penari Lengger yang tidak mendukung.

“Berdasarkan wawancara dengan perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Banyumas, seniman Lengger Lanang saat ini hanya tersisa sekitar 12 penari,” terang Bety.

Mempertahankan eksistensi kehidupan modern, Tari Lengger Lanang  melakukan beberapa adaptasi. Misalnya penambahan alat musik organ tunggal. Juga  memanfaatkan media online mempublikasikan kegiatan.

Tim peneliti juga menelisik nilai-nilai filosofis Tari Lengger Lanang pada konsep cross-gender, kostum penari, lagu-lagu pengiring, dan juga gerakan.

Kata Doni Andika, filosofi Tari Lengger menyampaikan pesan tentang nilai kesetaraan dan keseimbangan, keterbukaan dan fleksibilitas, ketuhanan, dan nilai kebersamaan.

BACA JUGA: Mi Ayam Ini Rasanya Enak Sekali, Murah Lagi, Cobalah

Tim merelevansikan nilai-nilai Tari Lengger Lanang terhadap isu ketidaksetaraan gender di Indonesia.

Misalnya, bagaimana manusia memahami keseimbangan tubuh  laki-laki maupun perempuan.

Peneliti lain, Danu Saifulloh Rahmadani berharap masyarakat Indonesia mampu mengapresiasi sekaligus menginternalisasi nilai-nilai tarian dalam konteks ketidaksetaraan gender.

“Kami juga berharap pemerintah selalu mendukung dan membuat kebijakan strategis mempertahankan Tari Lengger Lanang,” saran Danu. (aza/asa)

Penulis:

Hobinya menulis, mendaki dan jalan-jalan...

KOMENTAR (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

PILIHAN REDAKSI

Tak Hanya Bangun Padepokan, Afnan Hadikusumo Juga Pikirkan 500 Pendekar Tapak Suci

  • 3 Oktober 2026 08:13 WIB

 Sebanyak 500 anggota menyandang  “pendekar”  yang tersebar di berbagai kepengurusan Tapak Suci di Indonesia.

Sultan Nyatakan Jukir Tak Punya Hak Tentukan Tarif

  • 21 September 2026 20:44 WIB

GKR Condrokirono telah menjelaskan Bolosego  mengantongi izin berjualan di Alun-alun Selatan dari Keraton Yogyakarta.

Budi Waljiman Sebut Keistimewaan Yogyakarta jadi Modal Penting Perkuat Pembangunan Daerah

  • 19 Agustus 2026 19:20 WIB

Keistimewaan Yogyakarta tidak hanya berkaitan tata kelola pemerintahan, tetapi juga tercermin dalam nilai budaya, gotong royong, dan keteladanan yang diwariskan para pahlawan.

Budi Waljiman Apresiasi Dedikasi Paskibraka

  • 20 Agustus 2026 06:44 WIB

Pengalaman menjadi anggota Paskibraka tidak hanya berkaitan pelaksanaan tugas upacara kenegaraan

Pawai Ekosistem Malioboro Bikin Kesengsem Wisatawan

  • 7 Oktober 2026 05:50 WIB

Pawai Budaya Nuswantoro yang berlangsung selama dua jam lebih ini menjadi daya tarik wisatawan domestik dan turis.

Mau Rasa Beda? Coba Rasakan Nikmatnya Kopi Nirmalagiri

  • 26 September 2026 08:40 WIB

Koling dan Darling Merapi didukung  Pemda DIY melalui Dana Keistimewaan dan Bank Indonesia melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

PERDOSKI Gelar Pertemuan Ilmiah Tahunan di Yogyakarta, Hadirkan Inovasi Dermatologi Terkini

  • 6 Agustus 2026 16:18 WIB

PIT XXI PERDOSKI 2026 menjadi momentum penting memperkuat kolaborasi antar akademisi, klinisi, peneliti, institusi pendidikan, pemerintah, dan industri kesehatan.

Melihat Pelajar Adu Argumen di Gedung Parlemen

  • 14 Agustus 2026 08:09 WIB

Olimpiade dirancang dua babak penilaian untuk memastikan pemenang memiliki keunggulan substantif.