Sleman, ZonaJogja.Com – Bagi penyuka anggrek, ada acara menarik di Alun-alun dan Pendopo Agung Ambarrukmo.
Mulai 18 November hingga 23 November 2025, diselenggarakan Festival Anggrek Vanda Tricolor (FAVT) ke-8.
Event yang digagas Dinas Koperasi dan UKM DIY bekerjasama Yayasan Pelestarian Anggrek Merapi dan Pecinta Anggrek Indonesia, mengangkat tema Pesona Anggrek Tricolor Warisan Hutan Merapi.
Festival bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap anggrek Vanda Tricolor, varian dan turunannya. Juga menginformasikan tentang seluk beluk pembudidayaan, pelestarian, dan peluang bisnis.
Anggrek Gunung Merapi

Festival yang didukung Dana Keistimewaan (Danais) mempromosikan Vanda Tricolor Var Suavis, anggrek cantik yang habitat aslinya berada di lereng Gunung Merapi.
Selain Vanda Tricolor Var Suavis, festival memajang Anggrek Bulan yang populer dinamai “moon orchid” karena warnanya mirip bulan. Lalu ada dendrobium, cattleya, anggrek hitam, anggrek tebu, anggrek slipper, dan oncidium.
Pada festival tahun ini, para pengunjung juga bisa berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Ada lomba foto, kontes foto, talkshow, workshop hingga lelang anggrek.
Informasi dari sekretariat menyebutkan, sebanyak 461 orang mengikuti talkshow dan workshop.
Sedangkan jumlah pengunjung sekitar 2.500 orang. Mereka datang dari DIY, Solo, Wonosobo, Purworejo, dan Magelang. Juga ratusan wisatawan yang sedang liburan di Yogyakarta.
Laris Manis

Bagi para pedagang anggrek yang membuka stand, festival kali ini sangat menyenangkan. Selain animo yang tinggi dari pengunjung, berbagai bunga anggrek yang dipamerkan juga laku keras.
Peserta yang akrab disapa Aple, misalnya. Owner Raja Bunga Anggrek (RBA) ini bersyukur bisa berjualan di Festival Anggrek Vanda Tricolor (FAVT) ke-8.
“Alhamdulillah. Banyak yang laku,” kata Aple yang baru saja melayani pembeli.
Bunga anggrek yang terjual rata-rata seharga Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu. Pembelinya para pemula yang didominasi anak-anak muda.
Festival juga memamerkan anggrek yang harganya di atas Rp 1 juta hingga puluhan juta rupiah. Di Pendopo Agung Ambarrukomo terdapat anggrek yang dibandrol dengan harga Rp 60 juta.
Aple pun berharap di Yogyakarta sering diselenggarakan festival anggrek. Selain memberi dampak ekonomi bagi masyarakat, festival juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat membudidayakan bunga anggrek.
“Anggrek memiliki nilai jual yang tinggi di Indonesia. Sangat menjanjikan keuntungan besar bagi petani dan wirausahawan,” kata Aple.
Peluang Ekspor Terbuka

Bahkan, peluang ekspor anggrek juga terbuka lebar. Antara lain dikirim ke Jepang, Korea Selatan dan Timur Tengah.
Respon positif terhadap festival juga disampaikan Widya dari Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
“Menurut saya, ini acara bagus dan positif bagi upaya pelestarian bunga anggrek. Termasuk dalam aspek budi daya anggrek yang memiliki nilai ekonomis,” ujarnya.
Kata Widya, penyediaan bibit, media tanam, pupuk organik, dan souvenir anggrek memiliki peluang bisnis yang menggiurkan. (*)











