Kronika

Barjo, Penarik Gerobak dari Gedongkiwo yang Dapat Cuan dari Sampah

383
×

Barjo, Penarik Gerobak dari Gedongkiwo yang Dapat Cuan dari Sampah

Sebarkan artikel ini
PIONER: Barjo memanfaatkan biopori untuk memproduksi pakan ternak dari sampah anorganik. (istimewa)

YOGYAKARTA, ZonaJogja.Com – Kemantren Mantrijeron langsung bergerak menindaklanjuti keluarnya Surat Edaran (SE) Walikota Yogyakarta Nomor 660/6123/SE/2022 tentang Gerakan Zero Sampah Anorganik.

Warga Mantrijeron bersepakat  mengelola sampah berdasarkan kearifan lokal, terutama sampah yang diproduksi dari rumah tangga.

“Saya sudah mengajak warga untuk bersama-sama menyukseskan program baik dan positif ini,” kata Mantri Pamong Praja Kemantren Mantrijeron, Affrio Sunarno SSos kepada ZonaJogja.Com, hari ini (11/1/2023).

Affrio mengungkapkan, sebenarnya ada warga Mantrijeron yang sudah memberi contoh mengelola sampah.

Dia adalah Barjo. Tinggal di kampung Gedongkiwo. Sehari-harinya bekerja sebagai penarik gerobak sampah.

Pria ini sudah melakukan pemilahan anorganik. Pemilihan tersebut hampir sempurna dilakukan.

“Tapi, produk hasil pemilihan tersebut untuk dijual,” ujar Affrio.

BACA JUGA: Hindari Datangnya Jenuh, Puluhan Lansia Bernyanyi Seminggu Sekali

GERAKAN PILAH SAMPAH: Mantri Pamong Praja Kemantren Mantrijeron, Affrio Sunarno SSos menyarahkan bantuan berupa timbangan dan ember sebagai sarana pengelolaan sampah. (istimewa)

Bahkan, penarik gerobak ini juga memilah limbah dapur rumah tangga dijadikan sebagai pakan ternak.

Dari mana sampah yang dikelola? Sampah tersebut diperoleh dari penduduk yang tidak mempunyai kemauan memilah sampah.

Sementara warga yang terbiasa memilah, sampah dijual atau diserahkan ke bank sampah yang dikelola kampung.

“Justru karena pemilahan sudah dilakukan penggerobak, maka kami mendorong bimbo, supaya sampah tidak perlu sampai ke TPST Piyungan,” terang Affrio.

Apa itu bimbo? Bimbo adalah singkatan dari biopori jumbo. Bila volume jumbo sudah memadai, penarik gerobak sampah bisa memanfatkan sampah.

Terpisah, Ketua RW 18 Dukuh, Gedongkiwo, Wiharyoko membenarkan Barjo yang dikenal sebagai pegiat pengelola sampah.

“Sudah lima tahunan Pak Barjo memilah sampah secara mandiri,” kata Yoko.

Yoko pun mengajak masyarakat memilah sampah rumah tangga seperti yang dilakukan Barjo. Sampah organik ditangani masing-masing warga.

Sampah anorganik bisa dijual. Sementara sampah residu dan beracun bisa diserahkan kepada pembuang sampah yang diangkut dengan gerobak.

BACA JUGA: RS Pratama Buka Kelas Yoga bagi Ibu Hamil, Gratis, Dapat Fasilitas Lagi

NILAI EKONOMIS: Barjo sedang memilah sampah melaui biopori. (istimewa)

Seperti diketahui, pesan yang ingin disampaikan dari keluarnya Surat Edaran (SE) Walikota Yogyakarta Nomor 660/6123/SE/2022 tentang Gerakan Zero Sampah Anorganik adalah pemerintah daerah, masyarakat dan pelaku usaha memiliki tanggung jawab mengelola sampah dari aktivitas sehari-hari.

Selama ini, produksi sampah di Kota Yogyakarta mencapai 360 ton per hari. Dari jumlah tersebut, diserap bank sampah sekitar 2 persen dan pemulung sekitar 29 persen.

Sehingga, total volume sampah yang diangkur ke TPST Piyungan sekitar 260 ton per hari.

Komposisi sampah terdiri  sekitar 55 persen sampah organik dan sekitar 45 persen sampah anorganik.

“Gerakan zero sampah anorganik harus sukses. Gerakan ini sangat penting untuk membatasi sampah anorganik agar habis di sumber sampah. (*)