oleh

Mengatasi Anak Jenuh Belajar, Mahasiswa UMBY Gelar Psikoedukasi

KULON PROGO – Kelompok 62 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) melaksanakan kegiatan psikoedukasi.

Psikoedukasi mengusung tema “Strategi Mengatasi Kejenuhan Belajar Daring Selama Masa Pandemi COVID-19”.

Acara ini dihadiri ibu rumah tangga, lima anak siswa sekolah dasar, dan lima  anak siswa SMP. Mereka adalah warga Dusun Jambon, Kalurahan Donomulyo, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.

Sasaran utama psikoedukasi  adalah orang tua. Sehingga metode psikoedukasi yang dilakukan berupa penyampaian materi.

BACA JUGA: Ini Podcast tentang Mendidik Anak Disabilitas yang Inspiratif, Lihatlah…

JALAN KELUAR: Berbagi tips cara orang tua menemani anak belajar pada pandemi. (istimewa)

Termasuk tips yang harus dilakukan orang tua  mengatasi anak-anak yang jenuh belajar online.

Materi yang disampaikan meliputi waktu belajar yang cocok untuk anak; mengetahui belajar yang tepat bagi anak.

Lalu, faktor penyebab kejenuhan yang kerap dialami anak saat belajar daring.

Selain psikoedukasi bagi ibu rumah tangga, juga dilaksanakan kegiatan belajar dan bermain. Belajar dan bermain merupakan  proses belajar menyenangkan yang dapat mengatasi anak  jenuh  belajar.

“Kegiatan ini memiliki banyak manfaat bagi anak. Misalnya mampu meningkatkan perkembangan kognitif, melatih kepercayaan diri, mengembangkan keterampilan sosial dan emosional,” terang Ketua Kelompok 62, Muammar Andrean.

Psikoedukasi membantu anak menciptakan semangat dan gairah baru dalam belajar. Usai psikoedukasi, dilanjutkan bincang-bincang dengan ibu-ibu.

Mahasiswa ingin mengetahui persoalan yang dialami selama menemani anak belajar daring di rumah.

BACA JUGA: Bupati Karanganyar Sebut Isoter Bisa Hentikan Pandemi COVID-19

BUTUH KESABARAN: Mahasiswa mendampingi anak-anak belajar. (istimewa)

Ternyata, ibu-ibu bercerita tentang kesulitan membujuk anak mengerjakan tugas. Bahkan sejumlah ibu mengaku kewalahan menghadapi anak yang malas sekolah.

Pandemi virus corona  membuat orang tua harus mendampingi anak belajar di rumah. Orang tua harus menemani siswa yang belajar melalui internet. Misalnya lewat zoom.

Kebiasaan baru ini  membuat orang tua kewalahan menciptakan belajar yang menyenangkan bagi anak.

“Sehingga anak mudah merasa lelah karena kurangnya dukungan sosial dari orang tua,” kata Andrean.

Anak-anak juga menghadapi tuntutan akademik, tugas yang banyak, situasi belajar yang tidak berubah, metode pembelajaran yang monoton, dan konflik dengan teman atau orang tua.

Kondisi ini membuat anak warga Dusun  Jombang jenuh belajar. Akibatnya, anak menjadi lesu,  tidak bersemangat, dan tidak bergairah  belajar. (adv/asa)