oleh

Ajak Dewan Atasi Sampah, Bambang Ketel Siap Biayai Studi Banding

YOGYAKARTA – Masih ingat  penduduk Kotagede sekitarnya yang mengeluhkan bau tak sedap? Sampai sekarang, bau menyengat seperti sampah masih mengganggu.

Belum jelas sumbernya. Namun, pegiat lingkungan Bambang Ketel Cahyono memperkirakan bau tak sedap itu bersumber dari Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan.

“Ini masalah serius. Sebaiknya segera dicari solusi. Kasihan masyarakat,” kata Bambang kepada ZonaJogja.Com, hari ini (18/9/2021).

Bambang mengatakan, sekarang ini sedang terjadi radiasi sampah. Radiasi ini berasal dari TPST Piyungan.

Radiasi itu menyebar dari perempatan Rejowinangun hingga Kotagede. Baunya berputar-putar. Arah timur sampai Patuk.

Bila ada perubahan angina, bau bisa sampai Pleret. Bahkan, hingga Imogiri.

BACA JUGA: Warga Maguwoharjo Tunggu Realisasi Uang Ganti Kerugian

BAMBANG KETEL CAHYONO

“Mari kita selesaikan bersama persoalan radiasi sampah ini,” ajak Bambang.

Solusinya, Bambang mengajak kalangan DPRD DIY dan eksekutif studi banding di Malang, Jawa Timur.

Lokasi yang perlu didatangi adalah  TPST-3R Mulyoagung Bersatu. Tempat ini dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat Desa Mulyoagung Kecamatan Dau Kabupaten Malang, Jawa TImur.

Tempat ini sekaligus sebagai pusat edukasi pengembangan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kata Bambang, pengelolaan sampah di TPST-3R bisa ditiru.

Pasalnya, Bambang beserta sejumlah aktivis lingkungan sudah melihat lebih dekat pengelolaan sampah mandiri. Lantas, apa yang menarik dari TPST-3R?

Masyarakat bersama pemerintah daerah sangat kompak. Keduanya bersinergi dalam pengelolaan sampah.

Alhasil, kerjasama antara warga dan pemerintah daerah membuat sampah tidak menjadi persoalan bagi masyarakat Desa Mulyoagung Kecamatan Dau Kabupaten Malang.

BACA JUGA: Lereng Merapi Rusak, Sultan HB X Tegaskan: Gunung Bali Gunung

TPST PIYUNGAN: Sumber radiasi sampah? (bambang ketel)

Tidak ada tumpukan sampah. Karena petugas konsisten mengendalikan volume sampah.

Sampah dipilah dan diolah. Ada sampah yang dijadikan kompos. Sementara bila sampah berupa plastik dikirim ke pabrik.

Menariknya, tempat permukiman penduduk di sekitar TPST-3R tidak terganggu dengan limbah sampah.

“Saya buktikan sendiri. Tidak ada bau sampah,” ujar Bambang.

Bahkan, sejumlah rumah makan yang berada di sekitar TPST-3R juga nyaman-nyaman saja. Selain tidak ada bau, lokasi sekitar tempat pengelolaan sampah juga bersih.

Tak mengerankan bila tempat pengelolaan sampah di Desa Mulyoagung sering menjadi tempat studi banding.

BACA JUGA: Viral Blast Global Inisiasi Kabupaten Bantul Promosi di Times Square New York

PRASASTI: Tempat berprestasi mengelola sampah. (bambang ketel)

“Mari kita jadwalkan berkunjung ke Malang,” ajak Bambang.

Misalnya tidak ada pos anggaran pada tahun ini untuk studi banding, Bambang mengatakan tidak perlu khawatir.

Ia bersama sejumlah aktivis lingkungan bersedia menanggung biaya akomodasi dan logistik bagi anggota dewan dan eksekutif selama studi banding.

“Kalau misalnya ada anggaran untuk studi banding, alhamdulillah. Bila tidak ada, saya siap membiayai,” kata Bambang.

Nawaitu Bambang dan kawan-kawannya bukan untuk gagah-gagahan. Ia hanya merasa prihatin dengan persoalan  sampah. (aza/asa)