ZonaJogja.Com – Suara Gamelan Kyai Guntur Madu dan Gamelan Kyai Nogo Wilogo tetap memikat masyarakat.
Penduduk dari berbagai kota dan kabupaten di DIY berbondong-bondong mendatangi pelataran Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta.
Mereka menyimak alunan suara gamelan Kyai Guntur Madu di Pagongan selatan, dan Kyai Guntur Sari di Pagongan bagian utara.
Sore tadi, misalnya. Pengunjung langsung merapat ke Pagongan sayap utara usai shalat ashar.
Mereka mendengarkan suara Gamelan Kyai Guntur Sari yang ditabuh para abdi dalem.
BERITA LAIN: Inilah Para Juara Kompetisi Kreativitas Kepemudaan 2023, Hadiahnya Bikin Semangat

Tak hanya orang tua. Anak-anak muda dan bocah juga berdesak-desakan menyaksikan para abdi dalem menabuh gamelan dengan ritme khas.
Ketika para abdi dalem berhenti menabuh, masyarakat langsung bergegas menuju Pagongan sisi selatan.
Mereka kembali mendengar suara gamelan Kyai Guntur Madu yang ditabuh para abdi dalem.
Sekadar diketahui, gamelan Kyai Guntur Madu melambangkan syahadat tauhid.
Sedangkan gamelan Kyai Guntur Sari melambangkan syahadat Rasul. Gamelan ini ditabuh setahun sekali menjelang Grebeg Maulud Keraton Yogyakarta.
BERITA LAIN: Wartawan dan Dosen UGM Berebut Ikan, 3 Jam Banjir Doorprize
Kedua gamelan yang telah berusia ratusan tahun ini ditabuh tanggal 6 hingga 12 Mulud.
“Mangkih gamelan kundur ke Keraton dinten kemis (nanti gamelan kembali ke Keraton Yogyakarta hari kamis),” terang seorang penjual soto dari Kulon Progo.
Tak hanya mendengarkan gamelan, pengunjung juga bisa menikmati berbagai kuliner di pelataran Masjid Gedhe Kauman.
Ada nasi kuning, nasih gurih dan telur merah yang menjadi legenda setiap menjelang acara grebeg.
Juga ada soto, gudeg, bakmi, kupat tahu serta makanan kekinian. (*)











