Temanggung, ZonaJogja.Com – Pasar Papringan Ngadiprono. Tempat kuliner di hutan bambu ini tetap saja diminati masyarakat.
Pada tahun ini, Pasar Papringan berusia sembilan tahun sejak kali pertama dibuka tahun 2016.
Pasar tradisional yang lokasinya berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Temanggung ini menjadi primadona para wisatawan.
Mereka datang dari berbagai kota di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur dan Jawa Barat.
“Saya mengetahui Pasar Papringan dari sosial media. Tempatnya asyik. Menyenangkan,” ujar Nanik, wisatawan asal Jawa Timur.
Sayangnya, pasar tradisional yang berlokasi di Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah ini hanya buka pada hari tertentu.
Buka setiap Minggu Pon dan Minggu Wage pukul 06.00 – 12.00. Pada Minggu Pon (11/1/2026) kemarin, misalnya.
Cuaca buruk di Minggu pagi tak menyurutkan animo para wisawata mengunjungi Pasar Papringan.
Jadi Magnet Wisatawan

Ratusan orang berburu panganan tradisional di bawah guyuran air hujan. Setelah parkir kendaraan di jalan kampung atau halaman rumah penduduk, pengunjung langsung menuju area pasar tradisional.
Saking penuhnya, mereka harus antri di loket pintu masuk. Petugas akan menukar uang yang diberikan pengunjung dengan sebuah keping bambu berukuran kecil yang menjadi alat transaksi.
Di area pasar seluas kurang lebih 1.000 meter persegi, wisatawan langsung berburu panganan. Semua serba tradisional. Panganan juga sehat, karena tidak memakai micin atau penyedap rasa lain.
Lantas, apa saja panganan yang dijual di Pasar Paparingan? Ada gethuk gulung, klenyem, bakwan jendal, puthu mayang, ketan bakar, persikan, toklo, gathot.
Lalu, tiwul, gandos, jenang koro, mendut, nagasari, sego abang, sego jagung, jenang jali, apem, kroket kentang, soto dan tongseng ayam.
Sedangkan minumannya ada dawet, wedang jahe, jeruk, tape aren, dan wedang tape. Jadi, kapan mau ke Pasar Papringan? (*)











