Uncategorized

Dosen UGM Kunjungi Rusia, Sebut FPU Buka Opsi Baru Energi Nuklir di Indonesia

13
×

Dosen UGM Kunjungi Rusia, Sebut FPU Buka Opsi Baru Energi Nuklir di Indonesia

Sebarkan artikel ini
INOVASI MODERN: Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Universitas Gadjah Mada, Ir Yudi Utomo Imardjoko MSc berpose tak jauh dari kapal pembangkit nuklir terapung. (dokumen pribadi)

Beberapa waktu lalu, Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Universitas Gadjah Mada, Ir Yudi Utomo Imardjoko MSc PHD mengunjungi Rusia. Apa tujuannya?

————

AGENDA kunjungan tak lain melihat secara langsung pengalaman Rusia dalam pembangunan dan pengoperasian Floating Nuclear Power Plant (FNPP) serta teknologi Floating Power Unit (FPU) yang sedang dikembangkan untuk kebutuhan energi di berbagai wilayah.

​Yudi bersama rombongan mengunjungi Akademik Lomonosov di Pevek, Chukotka, serta Floating Power Unit (FPU) 106 yang sedang dibangun di galangan kapal Rusia.

​Kunjungan tersebut  tak hanya melihat  teknologi yang telah beroperasi, tetapi juga proses pembangunan FPU generasi berikutnya.

​“Bagi Indonesia, FPU merupakan salah satu solusi yang menarik untuk memasok listrik ke wilayah pesisir terpencil, pulau-pulau, serta fasilitas industri dan pertambangan berskala besar, terutama di lokasi yang pembangunan jaringan listriknya secara teknis kompleks atau secara ekonomi kurang layak,” ungkap Yudi kepad wartawan di Gedung UC UGM, hari ini (15/9/2026).

​Pengalaman Rusia dalam Teknologi Nuklir Terapung

BELAJAR DARI RUSIA: Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Universitas Gadjah Mada, Ir Yudi Utomo Imardjoko MSc melihat langsung pengalaman Rusia dalam pembangunan dan pengoperasian Floating Nuclear Power Plant (FNPP) dan Floating Power Unit. (dokumen pribadi)

Seperti diketahui, Rusia memiliki pengalaman operasional paling maju dalam pemanfaatan pembangkit nuklir terapung. Sejak 2020, Akademik Lomonosov telah memasok listrik dan panas bagi kota Pevek dan wilayah sekitarnya di Chukotka.

​Fasilitas tersebut merupakan Floating Nuclear Heat and Power Plant (FNPP) yang menggunakan satu unit FPU dengan dua reaktor KLT-40S. Masing-masing reaktor memiliki kapasitas listrik 35 MW, sehingga total kapasitas listrik terpasang mencapai 70 MW, sementara fasilitas tersebut juga mampu memasok panas hingga 50 Gcal/jam.

​Sejak beroperasi, Akademik Lomonosov telah menghasilkan lebih dari 1,38 miliar kWh listrik, sekaligus menjadi bagian dari infrastruktur energi untuk mendukung aktivitas ekonomi di kawasan Arktik Rusia.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam pengembangan generasi baru FPU yang menggunakan teknologi reaktor RITM.

FPU untuk Kebutuhan Energi Indonesia

Teknologi FPU yang dikembangkan Rusia tidak berdiri sendiri. Pengembangannya memiliki kaitan erat dengan pengalaman panjang Rusia mengoperasikan reaktor nuklir pada kapal pemecah es.

​Reaktor dari keluarga RITM-200 telah digunakan pada kapal pemecah es nuklir generasi baru Proyek 22220, termasuk Arktika, Sibir, Ural, dan Yakutia.

Pengalaman pengoperasian tersebut memberi basis teknologi untuk pengembangan berbagai konfigurasi FPU, termasuk FPU-106 yang saat ini sedang dibangun untuk memenuhi kebutuhan energi kawasan industri di Timur Jauh Rusia.

​Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, tantangan penyediaan energi tidak selalu terletak pada ketersediaan pembangkit. Persoalan lain adalah penyediaan pasokan energi yang andal ke lokasi-lokasi yang secara geografis terpencar, berada jauh dari pusat pembangkitan, atau belum memiliki jaringan listrik yang memadai.

“​Dalam konteks tersebut, Floating Power Unit memiliki relevansi yang kuat bagi kebutuhan energi Indonesia,” kata Yudi.

​Pembangkit ditempatkan pada fasilitas terapung yang dapat dioperasikan di kawasan pesisir dengan infrastruktur pendukung yang sesuai tanpa ketergantungan sepenuhnya pada pembangunan jaringan transmisi jarak jauh.

​FPU menawarkan karakteristik pembangkit nuklir yang mampu menyediakan listrik secara stabil dalam jangka panjang dengan faktor kapasitas yang tinggi dan tidak bergantung pada kondisi cuaca.

Karakteristik tersebut menjadikan FPU sebagai salah satu solusi yang dapat mendukung kebutuhan energi industri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dari Rusia untuk Indonesia: Jadi Langkah Strategis

​Pengalaman Rusia menunjukkan teknologi nuklir terapung telah bergerak dari konsep menjadi fasilitas yang beroperasi.

Akademik Lomonosov memberi pengalaman nyata mengenai pengoperasian FNPP di wilayah terpencil, sementara pengembangan FPU berbasis reaktor RITM menunjukkan arah evolusi teknologi berikutnya.

​Bagi Indonesia, pengalaman tersebut memberi gambaran konkret mengenai pemanfaatan teknologi nuklir terapung untuk menjawab tantangan penyediaan energi di wilayah kepulauan dan kawasan industri terpencil.

Kata Yudi, nuklir PLTN bisa membuat tanpa subsidi terhadap PLN atau mengurangi subsidi. Selain itu, teknologi nuklir sekarang  jauh lebih aman dibandingkan masa lalu, karena menerapkan sistem aktif dan sistem pasif.

Nuklir juga tidak tergantung harga minyak. Misalnya  terjadi gejolak perubahan harga minyak karena Selat Hormuz dan sebagainya, harga nuklir tidak berubah.

​Kerja sama Indonesia–Rusia kini memasuki tahap lanjut. Penyelesaian NDA dan IGA akan menjadi bagian penting dari kelanjutan proses tersebut, bersamaan pengembangan aspek teknis, keselamatan, regulasi, keekonomian, dan kelembagaan. (*)