Sport

Pelatih Timnas Wanita Indonesia Pantau MLSC Yogyakarta Seri 1, Sebut Turnamen Bentuk Ekosistem Sepakbola Putri yang Bagus

1
×

Pelatih Timnas Wanita Indonesia Pantau MLSC Yogyakarta Seri 1, Sebut Turnamen Bentuk Ekosistem Sepakbola Putri yang Bagus

Sebarkan artikel ini
ATENSI: Pelatih Timnas Wanita Indonesia, Satoru “Mochi” Mochizuki (tengah) bersama kru dari Bakti Olahraga Djarum Foundation memantau pertandingan. (azam/zonajogja.com)

Sleman, ZonaJogja.Com – Penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Yogyakarta Seri 1 2026–2027  terdapat sejumlah perubahan. Pertama, regulasi batasan umur.

Kelompok Umur 10 (kelahiran 1 Juli 2016 – 30 Juni 2018), sementara Kelompok  Umur 12 (kelahiran 1 Juli 2014 – 30 Juni 2016).

Perubahan kedua, terkait ukuran lapangan KU 10. Ukuran lapangan yang sebelumnya 40 x 24 meter, kini menjadi 42 x 26 meter.

Pertandingan yang disaksikan ratusan penonton ini dipantau Pelatih Timnas Wanita Indonesia, Satoru “Mochi” Mochizuki.

Mochi mengatakan penyelenggaraan sepakbola putri di level usia dini bisa merangsang ekosistem yang baik untuk menopang masa depan sepakbola putri tanah air.

“Turnamen seperti ini bisa membentuk ekosistem sepakbola putri yang bagus, karena ada penyelenggara, ada pemain, dan ada suporter juga,” ujarnya.

Lingkungan yang bagus  bisa berefek besar untuk kemajuan sepakbola putri Indonesia.

Negara-negara dengan sepakbola yang kuat dipastikan memiliki lingkungan bagi anak-anak untuk bermain di manapun dan kapanpun.

“Indonesia sudah memulai hal itu. Kita tinggal melihat 5 sampai 10 tahun ke depan, ada bakat yang bisa dipetik. Bahkan mungkin bisa berpartisipasi di piala dunia,” beber Mochi.

Dampak positif yang tercipta dari inisiatif pembinaan sepakbola putri sejak 2023 mulai terlihat.

Awalnya empat kabupaten. Kemudian bertambah jadi 8 kota, 10 kota, 12 kota, sampai tahun ini diikuti 15 kota.

Sepakbola di kalangan anak-anak perempuan semakin meluas, termasuk pada MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Yogyakarta Seri 1 2026–2027.

Perwakilan Bakti Olahraga Djarum Foundation, Satia Chandra Wiguna menyebut antusiasme peserta di Yogyakarta masih tinggi.

“Kami banyak mendengar cerita anak-anak perempuan mulai percaya diri bermain sepakbola bersama anak laki. Ini menunjukkan anak perempuan mulai tertarik bermain sepakbola,” ungkapnya.

Olahraganya semakin inklusif. Tidak hanya terbatas di kalangan laki-laki.

Fenomena ini membuat Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife semakin termotivasi mengembangkan sepakbola putri di Indonesia. (*)