oleh

Dulu Hidup Pas-Pasan, Kini jadi Juragan Jangkrik

KULON PROGO – Setelah banting stir, hidup pria ini sukses setelah budi daya jangkrik. Namanya Agung. Tinggal di Sentolo, Kulonprogo.

Setamat dari sekolah menengah atas pada tahun 1994, Agung bekerja sebagai sales promotion pada mal di kawasan Malioboro.

Ia juga harus kos di Solo, Jawa Tengah setelah menjalanan program kebijakan rolling dari perusahaan tempat bekerja.

Namun, statusnya sebagai karyawan beraakhir tahun 2006. Ia kembali ke Kulonprogo. Dan, bukan Agung kalau hanya diam.

Di tempat kelahirannya, Agung  mencoba menggeluti  usaha budi daya jangkrik. Jangkrik untuk pakan hewan peliharaan.

“Waktu itu, saya membantu memasarkan jangkrik yang dikirim dari Jawa Timur,” kata Agung.

BACA JUGA: Biro ICT UMBY Lulus Sertifikasi Internasional

Ia memasarkan jangkrik kiriman dari Jawa Timur di berbagai pasar di DIY dan Jawa Tengah. Pada tahun 2010, Agung kembali lagi ke Solo.

Di kota ini, Agung membuka pasar baru. Ia memasarkan jangkrik di Solo,  Boyolali, dan Salatiga. Seminggu sekali bolak-balik Kulonprogo – Solo.

Waktu yang kemudian membuat nama Agung dikenal di pasar-pasar tradisional. Namanya popouler dengan sebutan “Agung Jangkrik”.

“Saya suka dengan sebutan itu,” ujarnya.

Enam tahun kemudian, Agung kembali  ke Kulon Progo. Ia meninggalkan Solo. Lalu menetap di Kulonprogo sampai sekarang.

Di tempat kelahiran ini, Agung bersama isterinya semakin serius menggarap usaha budi daya jangkrik. Kerjasama dengan peternak asal Jawa Timur semakin mesra.

Kerjasama itu saling menguntungkan. Kehidupan Agung pun berubah. Tetangga dan kawan-kawan dekatnya menyebutnya sebagai orang sukses.

BACA JUGA: Jeruk Ini Rasanya Enak, Tumbuh Subur di Pantai Selatan

Betapa tidak. Kini, setiap hari Agung bisa menjual satu kuintal jangkrik. Harga jangkrik mencapai Rp 35 ribu per kilogram.

Ia juga sedang mengembangkan jangkrik bering. Jangkrik ini harganya lebih mahal. Sekitar Rp 4r ribu per kilogram. Setiap hari, Agung menjual 30 kilogram.

Meski telah sukses, kehidupan Agung tak berubah. Ia tetap rajin menjadi sales. Setiap pukul 06:00 pagi, Agung mengantar pesanan jangkrik kepada para pelanggan.

Ia menggunakan sepeda motor menuju PASTY di Dongkelan. Sekitar pukul 09:00, tak ada lagi karung berisi jangkrik  di sepeda motor.

“Alhamdulillah. Dengan usaha ini bisa menghidupi keluarga,” kata Agung yang mempunyai empat karyawan.

Di kampungnya, Agung juga mengajak masyarakat ikut menjadi peternak jangkrik. (nik/asa)