Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Pria ini tinggal di Kotagede. Memiliki nama lengkap Aji Juli Susetyo. Biasa disapa Yuli.
Lelaki yang sehari-hari buka bisnis gas elpiji ini mempunyai banyak informasi. Mulai peternakan, pertanian, ekonomi, pemerintahan hingga soal perpolitikan.
Termasuk mengetahui nama warga dan relasinya dengan orang lain dalam satu rumpun keluarga.
Tak hanya bisa menjelaskan secara detil. Juli juga memiliki referensi segudang untuk melengkapi informasi yang diberikan kepada orang lain.
“Saya hanya ingin berbagi informasi. Jika ada yang informasi yang kurang pas, maklumlah. Saya kan bukan orang pendidikan?” ujar Juli berkelakar.
Pria yang kemana-mana selalu memakai kaos oblong ini juga selalu nyambung saat diajak diskusi tentang sejarah sebagian cerita Kotagede pada masa lalu.
Ceritanya Runtut, Mudah Dipahami
Juli memang tak pernah kuliah di jurusan sejarah. Tapi, ia dapat bercerita layaknya seorang sejarawan.
Kronologinya runtut. Penjelasannya mudah dipahami. Juli kerap berbagi kabar dan informasi saat ngangkring pada pagi, siang atau malam hari.
Salah satu tempat yang sering didatangi saat pagi hari adalah Angkringan Pak Budi di Lapangan Karangan Kotagede.
Sembari menikmati sarapan dan minuman kopi pahit, Juli betah diajak ngobrol.
Pagi tadi, misalnya. Saat ada yang menyingung tentang cerita masyarakat Kalang di Kotagede, Juli langsung nimbrung.
Ia pun mengulas tentang masyarakat Kalang di Kotagede pada masa lalu. Berdasarkan informasi yang pernah didengar, Juli menyebutkan masyarakat Kalang waktu itu datang dari Bali yang didatangkan Sultan Agung.
Bercerita tentang Masyarakat Kalang
Masyarakat Kalang adalah saudagar kaya raya dengan keahlian arsitektur perpaduan Jawa-Eropa, seni ukir, dan bisnis.
Mereka membangun rumah megah di kawasan Tegalgendu dan Jalan Mondorakan. Rumah itu tetap eksis sempai sekarang.
“Rumah itu kini menjadi tempat bisnis. Ada yang menjadikan rumah sebagai showroom perak, ada pula restoran,” terang Juli.
Masyarakat Kalang di Kotagede tak hanya mencatat sejarah berupa rumah. Sampai hari ini terdata masih ada orang-orang keturunan Kalang.
Mereka tinggal di sejumlah kampung. Bahkan, juga ada yang tinggal di wilayah Yogyakarta dan Sleman.
“Rata-rata telah berusia di atas 80 tahun. Soal jumlahnya berapa, saya kurang tahu persis. Tapi, inilah sebagian kisah klasik Kotagede,” ujarnya. (*)











