oleh

Please Ibu, Jangan Menikah Lagi… | oleh: Sauki Adham

DEWI hanya bisa duduk lunglai setelah ngobrol dengan ketiga anaknya. Pasalnya, satu dari tiga anaknya tetap tak setuju bila ia menikah lagi. Adalah Amalia yang terang terangan melarang ibunya menikah lagi.

Sementara Prastiwi dan Prasetyo, dua anaknya yang lain, tak memasalahkan bila Dewi menjadi pengantin untuk kedua kalinya. Prastiwi adalah anak pertama Dewi. Disusul Prasetyo dan Amalia.

“Kalau ibu mau menikah lagi, saya hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan ibu,” kata Prastiwi.

“Silakan saja jika ibu mau menikah. Hanya calon pendamping ibu harus jelas asal usulnya. Bisa dipercaya sebagai laki-laki,” timpal Prasetyo yang duduk di sebelah Prastiwi.

Sementara Amalia, anaknya paling bungsu, bersikukuh tetap menolak ibunya menikah dengan Munandar.

“Saya bisa memahami bila ibu ingin menikah lagi. Tapi, pertimbangkan kembali ibu. Saya mohon,” pinta Amalia menatap wajah ibunya yang terlihat gelisah.

Dewi yang duduk di samping jendela hanya diam. Tak berkata-kata. Pikirannya hanya membayangkan wajah Bawono, pria yang sejak setahun lalu  menyatakan niatnya ingin menikahi.

Sesekali melintas wajah Prasojo, suami sekaligus ayah dari Prastiwi, Prasetyo dan Lestari. Prasojo meninggal dunia ketika Prastiwi berumur 21 tahun, Prasetyo berumur 19 tahun, sedangkan umur Lestari 16 tahun.

Kini, Amalia berusia 22 tahun. Artinya, Prasojo telah meninggalkan mereka sejak 6 tahun lalu. Di mata anak-anaknya, Prasojo seorang ayah yang baik. Selalu bisa memahami dan mengerti keinginan anak.

Bagi Prastiwi, Prasetyo dan Amalia, Prasojo bukan hanya seorang ayah. Tapi juga teman diskusi apa saja. Prasojo juga seorang ayah yang pintar memotivasi anak-anaknya.

Itulah sebabnya, ketiga anak-anaknya terbilang sukses. Prastiwi menjadi dosen perguruan tinggi negeri yang bergelar doktor. Prasetyo sukses menjadi pengusaha katering. Sedangkan Lestari sedang menyelesaikan program studi magister kesehatan.

Sementara di mata Dewi, Prasojo adalah suami yang setia.  Pria yang telah membuat hidupnya bahagia.  Ia  berumur 29 tahun ketika menikah dengan Prasojo. Sementara Prasojo berusia 30 tahun.

Mereka baru diberi momongan setelah setahun menikah. Anak pertama diberi nama Prastiwi. Prastiwi adalah singkatan dari Prasojo dan Titi Dewi.

Semasa hidup, Prasojo menjadi dosen. Hidupnya sederhana. Ia disegani kolega karena dedikasinya. Ia dihormati masyarakat karena kesantunan dan hidupnya yang bersahaja.

Sementara Dewi hanya ibu rumah tangga. Mendampingi dan melayani suaminya, serta mengasuh anak-anaknya. Prasojo menghembuskan nafas terakhir setelah kesehatannya kolabs karena asam lambung.

Sepeninggal Prasojo, semua kebutuhan hidup Dewi dan Amalia ditopang Prastiwi dan Prasetyo. Namun, hidup Dewi menjadi sepi sejak kepergian Prasojo.

Prastiwi menetap di Surabaya bersama suami dan dua anaknya. Sementara Prasetyo dan isterinya tinggal di Bandung,

Di rumah yang tak begitu besar di Yogyakarta, Dewi hanya ditemani Amalia. Itupun hanya pada jam-jam tertentu.  Amalia jarang di rumah. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya mengikuti berbagai kegiatan di kampus.

Membunuh hidup yang sepi, Dewi mulai rajin mengikuti berbagai kegiatan. Termasuk menghadiri acara reuni. Padahal, perempuan yang hobi memasak ini dulunya tak tertarik dengan acara kumpul-kumpul. Ia anti reuni.

Hingga akhirnya, wanita yang telah berusia 57 ini menghadiri reuni SMA. Acara ini telah mempertemukan  Dewi dengan Bawono, pacarnya sewaktu sekolah SMA.

Acara reuni telah berakhir. Namun, Dewi dan Bawono terus bertemu meski lewat handphone. Mereka saling mengirim dan membalas pesan.

Saat membalas pesan Bawono di ruang tamu, Dewi kadang tersenyum. Bahkan, hingga tertawa. Ia tak menyadari bila perubahan ibunya diperhatikan Amalia.

Lalu, Amalia menyampaikan perubahan yang terjadi kepada ibunya  kepada Prastiwi.

“Sepertinya sesuatu sedang terjadi pada ibu,” kata Amalia saat berbicara melalui handphone.

“Maksudmu apa, dik?” tanya Prastiwi, kakaknya.

“Saya nggak tau, mbak. Saya pernah tanya. Tapi, ibu hanya bilang sedang bercanda dengan temannya,” jawab Amalia.

“Syukurlah kalau ibu mulai bisa melupakan bapak,” kata Prastiwi.

“Itu yang saya khawatirkan mbak. Karena saya pernah melihat laki-laki mengantar ibu ke rumah. Ibu bilang, laki-laki itu temannya waktu SMA,” terang Amalia.

“Nggak usah mikir aneh-aneh, dik,” potongnya. “Minggu depan, mbak ada acara ke Jogja. Syukur dik Prasetyo juga bisa ke Jogja. Nanti kita ngobrol. Nanti mbak yang hubungi,” kata Prastiwi.

“Iya, mbak,” jawab Amalia.

Tanpa diduga, dua hari setelah ngobrol dengan Prastiwi, Dewi mengajak bicara Amalia.

“Lia, aku mau minta pendapatmu,” kata ibunya dengan nada hati-hati.

“Tentang apa, ibu?” Amalia balik bertanya.

Dewi lantas bercerita tentang hidupnya setelah Prasojo meninggal dunia. Ia juga bercerita tentang acara reuni. Lalu, menyampaikan apa adanya tentang Bawono, teman SMA yang pernah menjadi kekasihnya.

Bahkan, Dewi juga mengungkapkan keinginan Bawono menikahinya.

“Ibu telah menyampaikan semuanya. Ini baru kepadamu, Lia,” Dewi menahan sejenak kata-katanya. “Sekarang ibu ingin mendengar pendapatmu,” kata Dewi sembari menarik nafas dalam-dalam.

“Ibu mau menikah dengan bapak yang mengantar itu?” tanya Dewi.

“Ibu mau mendengar pendapatmu. Apa yang harus ibu lakukan ketika ada pria yang ingin menikahi ibu?” timpal Amalia.

Amalia tak menjawab. Ia menghindari tatapan mata ibunya.

“Lia tak setuju?” tanya ibunya lagi.

“Maafkan aku, ibu. Saat ini sangat sulit bagi Lia untuk menjawab,”ujar Lia.

“Ya, nggak apa-apa. Ibu bisa mengerti,” kata Dewi. “Kalau mau melanjutkan belajar, sana belajar lagi,” kata Dewi sembari meninggalkan Amalia yang duduk lunglai.

Sekeluar ibunya dari kamar, Amalia langsung mengirim pesan kepada Prastiwi. Juga Prasetyo. Isi pesan tak lain mengabarkan tentang Bawono yang ingin menikahi ibunya.

Kepada kedua kakaknya, Amalia menyatakan tak setuju ibunya menikah. Alasannya, ibu sudah tua. Alasan lain, kebutuhan sehari-hari juga tidak ada masalah. Semua tercukupi.

Sementara Prastiwi dan Prasetyo belum memberi komentar perihal teman SMA yang akan menikahi ibunya.

“Inshaallah, saya juga ke Jogja. Nanti sama-sama cari solusinya bersama mbak, dik,” kata Prasetyo.

Hingga akhirnya, waktu pertemuan yang telah dijadwalkan tiba. Prastiwi langsung ke rumah setelah terbang dari Surabaya. Prastiwi datang sendirian. Sementara Prasetyo datang bersama isterinya menggunakan mobil Sport Utility Vehicle terbaru.

Kedatangan Prastiwi dan Prasetyo mengagetkan Dewi. Selain  tak memberi kabar, keduanya biasa mengunjungi ibunya tiga bulan sekali. Selebihnya hanya lewat videocall.

Dan, malam itu. Ketiga anaknya akhirnya membicarakan tentang ibunya yang akan dinikahi Bawono.

Setelah mendengar penjelasan dan alasan ibunya, Prastiwi dan Prasetyo bisa memahami. Keduanya tak mempermasalahkan ibunya menikah lagi. Dengan catatan, tidak perlu ada perhelatan.

Cukup syukuran kecil-kecilan. Selain masih dalam pandemi COVID-19, juga sudah tidak lazim membuat acara besar-besaran bagi mempelai yang telah berumur.

Tapi, Amalia pada pertemuan ini belum bisa menerima kenyataan: ibunya akan menikah lagi.

“Ya sudah. Tidak apa-apa. Ibu juga tidak akan memaksa kalian. Terimakasih telah mau berbagi dengan ibu,” kata Dewi dengan suara parau.

“Ibu lelah. Ibu mau tidur dulu,” sambung Dewi sembari meninggalkan anak-anaknya di ruang tamu.

Melihat wajah ibu yang sedih, Amalia tiba-tiba beranjak dari tempat duduk. Kemudian menarik lengan ibunya.

“Ibu, lenggah dulu,” pinta Amalia.

Dewi kembali duduk. Wajahnya masih tampak lelah. Lalu memandang Amalia yang masih berdiri di sampingnya.

“Ada alasan, mengapa Lia tidak ingin ibu menikah lagi,” kata Amalia sambil duduk mendekati ibunya.

Tanpa sepengetahuan ibunya, Amalia sempat mengambil handphone ibunya. Handphone diambil saat ibunya tidur. Lalu, mencari nomor kontak pria yang ingin menikahi.

Seperti seorang detektif, Amalia mencari informasi tentang sosok Bawono melalui beberapa teman ibunya. Termasuk ngobrol langsung dengan Bawono.

Bawono seorang duda setelah isterinya meninggal tiga tahun lalu. Ia mempunyai anak semata wayang yang tinggal di Jakarta.

Umurnya 58 tahun. Hanya selisih setahun dengan ibunya. Mempunyai bisnis eksport-import. Secara materi, hidup Bawono sangat kecukupan. Namun, ada satu kondisi yang membuat Amalia keberatan ibunya menikah dengan Bawono.

Amalia mendengarkan langsung pengakuan Bawono. Pengakuan itu terkait sakitnya. Berdasarkan faktor medis, dokter memprediksi usia Bawono hanya tinggal satu tahun lagi.

“Apakah ibu sudah mengetahui semuanya tentang Pak Bawono?” tanya Amalia.

“Inshaallah sudah, Lia,” jawabnya.

“Termasuk sakit beliau?”

“Tentang prakiraan hidup yang disampaikan dokter, kan?”

“Itu yang menjadi alasan mengapa Lia keberatan ibu menikah lagi. Karena bila kata-kata dokter itu benar, berarti usia Pak Bawono tinggal lima bulan lagi,” beber Lia.

Mendengar kata-kata adiknya, Prastiwi dan Prasetyo tampak kaget. Mereka saling memandang. Tapi, tidak berkomentar. Terus menyimak penjelasan Amalia.

Informasi dari dokter itu yang membuat Lia tak ingin melihat ibunya sedih bila prediksi dokter itu ternyata benar. Ia tak sanggup melihat ibunya kembali hancur lebur karena ditinggal sosok yang dicintai. Hidup kembali sepi karena kehilangan Bawono.

“Ibu, hidup dan mati seseorang sepenuhnya takdir Tuhan. Lia berharap, prediksi itu meleset,” kata Lia.

“Ibu juga berharap seperti itu,” sela Dewi.

“Aamiin,” kata Prastiwi dan Prasetyo.

Amalia lalu menawarkan opsi. Ia bisa menerima ibunya menikah lagi. Dengan catatan, menunggu lima bulan. Ini adalah sisa waktu hidup secara medis.

Ibunya menyetujui opsi yang ditawarkan Amalia. Namun, anak-anaknya meminta ibunya tidak menyampaikan kesepakatan ini kepada Bawono.

Ibunya juga dilarang menemui atau menerima Bawono. Cukup berkomunikasi lewat handphone.

Waktu terus berjalan. Hingga akhirnya batas waktu yang telah disepakati hampir tiba. Tinggal seminggu lagi.

Sementara Bawono melalui handphone menyatakan dalam kondisi sehat. Dewi pun dengan suka cita siap menerima lamaran Bawono. Lalu, berharap segera menikah. Kemudian hidup bersama hingga kematian yang menyatukan.

Namun, menjelang dua hari berakhirnya lima bulan,  Dewi menerima kabar dari Teguh, anak semata wayang Bawono yang tinggal di Jakarta. Kondisi Bawono kritis.

“Bapak sekarang ada di rumah sakit di Semarang. Tak sadarkan diri,” kata Teguh kepada Dewi pada pukul delapan malam.

Mendengar kabar itu, Dewi langsung lunglai. Lemas tak berdaya. Amalia yang sedang menonton televisi buru-buru mengatasi ibunya yang nyaris pingsan.

“Pak Bawono sakit. Antar ibu ke rumah sakit,” pinta Dewi kepada Amalia.

Amalia langsung berkemas. Menghidupkan mesin mobil. Lalu, melalu menuju Semarang yang membutuhkan waktu sekitar empat jam.

Setiba di rumah sakit, Dewi tak bisa melihat wajah Bawono. Sosok pria yang ingin menikahi itu telah pergi selama-lamanya. Maut menjemput Bawono ketika Dewi dan Amalia dalam perjalanan menuju rumah sakit.***