oleh

Intuisi yang Mendua | oleh: Sauki Adham

BELAKANGAN, Dyah merasa hidupnya sedang tidak nyaman. Bahagia, gelisah, dan bimbang bercampur menjadi satu.

Ia ingin menepis kerisauan. Tapi, selalu gagal. Pikirannya tertuju pada seorang pria berpostur atletis bernama Prambudi.

Prambudi adalah mahasiswa semester akhir. Sementara Dyah baru semester 6. Sama-sama kuliah. Tapi, beda jurusan, beda kampus.

Prambudi kuliah jurusan ekonomi. Sementara Dyah kuliah jurusan sosiologi. Beberapa hari ini, Dyah susah tidur. Sulit konsentrasi. Beberapa tugas kuliah mangkrak, meski dikerjakan secara daring di rumah kos.

Hidupnya menjadi malas. Padahal banyak pekerjaan yang belum diselesaikan. Hari-harinya hanya mendengarkan lagu-lagu melankolis. Setelah itu melamun tanpa batas.

Kegelisahan Dyah bermula setelah bertemu Prambudi. Pertemuan tak disengaja itu telah mengganggu perasaan Dyah.

Dyah bertemu Prambudi pada acara diksar relawan yang berlangsug selama sepekan. Prambudi menjadi mentor, sedangkan Dyah menjadi peserta diksar.

“Apakah aku sedang jatuh cinta? Ataukah ini hanya perasaan yang datang sesaat,” kata Dyah menuangkan kegelisahan itu dalam buku diary.

BACA JUGA: Ratusan Pegawai Rumah Sakit Bergaji di Bawah UMP

Di mata Dyah, Prambudi adalah sosok laki-laki ideal. Untuk urusan fisik, postur Prambudi tinggi dan atletis. Wajahnya juga tampan. Juga tipe pria yang cerdas dan pintar mencari uang.

Meski kuliah belum selesai, Prambudi telah memiliki sejumlah bisnis.  Satu lagi yang membuat Dyah jatuh hati adalah kesabaran Prambudi. Sifat itu dilihat saat diksar.

Ya, sosok Prambudi telah memikat hati Dyah. Namun, pertemuan dengan Prambudi membuat Dyah dirundung gelisah. Pasalnya, Dyah telah menjalin hubungan dengan Setyo.

Setyo adalah mahasiswa satu kampus, tapi beda jurusan. Setyo kuliah jurusan ekonomi semester 6. Tapi, hubungan keduanya sebatas pertemanan.

Sebenarnya Setyo pernah mengungkapkan isi hatinya saat bermain di Pantai Indrayanti.

“Sepertinya aku mencintaimu?” kata Setyo.

“Mencintaiku?” Dyah balik bertanya.

“Iya,” jawab Setyo.

Namun, sejak kalimat itu dilontarkan dua setengah tahun lalu, Dyah tidak memberi jawaban. Setyo berkali-kali mendesak alasannya, tapi Dyah bersikukuh tak menjelaskan.

Setyo ingin mengetahui isi hati wanita yang dicintainya. Namun, Dyah tetap saja membisu.

“Beri aku waktu untuk menjawab. Tapi tidak sekarang,” ucap Dyah.

BACA JUGA: Bermitra dengan Prodi Agroteknologi, IKAGRO Kembangkan Sektor Pertanian

Meskipun demikian, Dyah tak pernah menolak ketika Setyo mengajak jalan-jalan. Kadang pada akhir pekan. Kadang saat hari libur.

Saat mengikuti diksar sekitar 7 bulan lalu, Dyah juga memberitahu Setyo. Namun, sejak diksar, Dyah dan Setyo jarang bertemu. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.

Keduanya hanya saling memberi kabar lewat handphone. Tapi, pertemuan Dyah dengan Prambudi makin intens sejak diksar.  Bahkan, Prambudi mengajak Dyah jalan-jalan tanpa sepengetahuan Setyo.

Hingga akhirnya, perkenalan dengan Prambudi mulai melibatkan perasaan. Dua bulan setelah diksar, Prambudi mengungkapkan perasaannya kepada Dyah.

“Bolehkah aku mendampingi hari-harimu?” tanya Prambudi dengan nada hati-hati.

“Apakah aku harus menjawab sekarang?” tanya Dyah.

“Aku tidak memaksa,” jawab Prambudi.

Dyah tak membalas. Ia hanya tersenyum sembari memegang lengan Prambudi.

Tiba-tiba terdengar nada panggilan di layar gadget Dyah yang ditaruh di meja. Terlihat sosok pria bertuliskan “lelakiku”. Lelaki itu tak lain adalah Setyo.

Dyah kaget. Gugup. Ia tak menjawab panggilan itu. Langsung mematikan handphone.

“Kekasihmu?” tanya Prambudi.

Dyah tak menjawab. Ia justru mengajak Prambudi pulang.

“Antar aku pulang,” pinta Prambudi.

Dengan perasaan tak enak sedikit gelisah, Prambudi mengiyakan permintaan Dyah.

Dalam perjalanan pulang menggunakan sepeda motor, Dyah memeluk pinggang Pambudi.

Setiba di rumah kos Dyah, Prambudi kembali melontarkan pertanyaan.

“Kamu sudah ada yang memiliki?” tanya Prambudi berdiri di pintu pagar.

BACA JUGA: Pakai Kasur Abata Foam, Tidur jadi Makin Nyaman

Dyah  tak menjawab. Hanya menghela nafas panjang sembari menatap sebentar wajah laki-laki di depannya.

“Besok malam temani aku jalan-jalan  ya?” kata Dyah, lalu meninggalkan Prambudi.

Saat di kamar, Dyah langsung menghidupkan kembali handphone yang dimatikan. Terlihat nada panggilan sebanyak 11 kali dari Setyo.

Saat Dyah hendak menelpon, ada panggilan dari Setyo.

“Tadi mana? HP kok dimatikan?” tanya Setyo tanpa basa basi.

“Besok siang antar aku beli ringcoat di Malioboro,” hanya itu yang disampaikan Dyah kepada Setyo.

Sekitar pukul 11.00, Setyo tiba di rumah kos Dyah. Lalu, keduanya bergegas menuju lokasi.

Setengah jam kemudian, Dyah dan Setyo tiba di pertokoan Malioboro. Setelah parkir sepeda motor di basement, keduanya menuju toko yang menjual peralatan adventure.

Dyah tak menolak ketika Setyo menggandeng tangan. Tanpa disadari, Prambudi sedang menyaksikan kemesraan Dyah dan Setyo.

Secara kebetulan, Prambudi juga akan membeli tas ransel di toko yang sama. Prambudi mengetahui Dyah dari pakaian yang dikenakan.

Dengan perasaan cemburu, Prambudi urung membeli tas. Kemudian buru-buru meninggalkan keduanya.

Di tempat parkiran, Prambudi mencoba menghubungi Dyah. Tapi, tidak ada respon.

Empat jam kemudian, Dyah menelpon balik Prambudi.

“Ada apa, mas? Maaf tadi baru ada acara,” tanya Dyah.

“Acara apa?” tanya Prambudi.

“Beli ringcoat di Malioboro. Tadi HP silent,” terang Dyah.

“Ooo..,” gumam Prambudi.

“Kok?” tanya Dyah heran.

“Jadi, tadi siang itu pacarmu?”

“Siapa?”

“Yang tadi menggandengmu,” jawab Prambudi.

BACA JUGA: Cek Efektivitas K3, C-Maxi Alloy Cast Diaudit

Dyah tak menjawab. Ia sedang bertanya-tanya, apakah Prambudi mengetahui dia sedang jalan-jalan dengan Setyo.

“Bukan, mas,” jawab Dyah.

“Kamu bohong,” kata Prambudi sedikit tinggi.

“Dia bukan siapa-siapa. Swear,” ujar Dyah.

Prambudi langsung mematikan handphone. Dyah berkali kali menghubungi, tapi tak diangkat.

Lalu, Dyah menulis pesan. Isinya ingin ketemu Prambudi sesuai janjinya ingin diajak jalan jalan.

Prambudi hanya menjawab “ok”. Setelah kejadian hari ini, Dyah berniat mengambil keputusan. Memilih satu dari dua pria yang sama-sama mencintai.

Malam telah tiba. Prambudi datang lebih awal ke kost Dyah. Prambudi mengajak Dyah makan malam.

Lagi-lagi Dyah memeluk pinggang Prambudi. Lokasi makan malam di pinggiran kota. Tanpa disangka di tempat yang sama, Prambudi dan Dyah melihat Setyo sedang berjalan bersama seorang wanita yang tak dikenal.

Setyo kaget melihat Dyah bersama Prambudi. Dyah juga terkejut melihat Setyo bergandengan tangan dengan wanita yang tak dikenal. Sementara Prambudi hanya bisa diam menyaksikan Setyo dan Dyah terlihat salah tingkah dan sama-sama gugup.

Tiba-tiba Dyah menarik lengan Prambudi keluar dari warung kuliner. Setyo hanya bisa memandang. Sementara Rina, wanita yang bersama Setyo terlihat bingung.

Dalam perjalanan pulang, Dyah dan Prambudi tak berbicara. Bahkan, setelah Dyah turun dari sepeda motor, Prambudi langsung pergi tanpa pamit.

Malam ini, Dyah betul-betul kacau. Marah, kecewa, dan sedih menjadi satu. Padahal, ia telah memutuskan akan memilih Setyo menjadi kekasihnya. Lalu, menjadikan Prambudi sebagi sahabat.

Tapi, ingatan Setyo berjalan bergandengan dengan wanita lain telah mengubah keputusannya.

Lalu, ia menulis pesan pendek yang akan ditujukan kepada Setyo.  Kau Kejam. Telah mengkhianatiku. Ternyata hatimu mendua. Padahal, aku ingin menjawab keinginanmu. Aku ingin menjadi kekasihmu. Tapi, malam ini aku berubah pikiran. Selamat tinggal.

Tapi, emosi membuat Dyah tidak fokus. Pesan yang harusnya dikirim ke Setyo, justru diterima Prambudi.

BACA JUGA: Melihat Kuda Berdiri dan Menari di Pituruh Purworejo

Prambudi sempat membaca pesan itu meski kemudian dihapus Dyah.

Lalu, Dyah menyusul pesan berikutnya kepada Prambudi.

Mas, jujur. Aku belum dimiliki siapapun, termasuk Setyo. Dan, aku juga tidak memiliki pria lain.

Ia memang pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku.  Tapi, aku belum menjawab sampai malam ini. Mas, aku tidak ingin membanding-bandingkan. Malam ini aku ingin menerima perasaan Setyo.

Tapi, ingatan malam ini membuatku melupakan keinginanku kepada Setyo. Mas, apakah rasa itu masih ada? Ajaklah aku meniti hari-hari bersamamu.   

Prambudi tak menjawab. Namun, keesokan harinya, Prambudi menemui Dyah di kos.

Lalu, mengajaknya di Gunung Merbabu. Di tempat ini, Prambudi memberi sekuntum bunga mawar kepada Dyah.

“Terimakasih telah menerima cintaku,” kata Prambudi sembari memeluk Dyah. ***