Tutup
Headline

PTM 50 Persen Berdampak terhadap Iklim Belajar Siswa

68
×

PTM 50 Persen Berdampak terhadap Iklim Belajar Siswa

Sebarkan artikel ini
DISIPLIN PROKES: Guru dan siswa pada jam belajar. (istimewa)

YOGYAKARTA, ZonaJogja.Com – Guru SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Arief Syarifuddin berharap Pemda DIY tetap menjalankan pembelajaran tatap muka 100 persen.

“Saya bisa memahami tentang antisipasi penyebaran virus corona. Tapi, pemerintah seyogyanya juga mau memahami kegundahan guru dan siswa,” kata Arief kepada ZonaJogja.Com, hari ini (4/2/2022).

Advertisiment
Scroll ke bawah untuk berita selengkapnya

Kata Arief, pemberlakuan kembali PTM 50 persen berdampak terhadap iklim belajar para siswa. Siswa tampak bersemangat belajar di sekolah.

Bisa berinteraksi dengan teman-teman. Sementara para guru juga bisa maksimal menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.

Namun, sejak keluar ketentuan PTM 50 persen, siswa kembali down.

“Jelas. Ini akan berdampak terhadap iklim belajar di sekolah. Apalagi siswa akhir sebentar lagi akan ujian,” katanya.

Arief berharap PTM tetap 100 persen. Hanya dibutuhkan kerjasama dengan instansi lain. Misalnya Dinas Kesehatan instens melakukan pengecekan di sekolah.

ARIEF SYARIFUDIN: Perlunya saling memahami dalam menyikapi pandemi virus corona.

Seperti diketahui,  Dinas Pendidikan dan Olahraga DIY mengeluarkan Surat Edaran nomor 421/00997 tentang Pengaturan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SMK dan SMA.

Keluarnya surat edaran ini diikuti Pemkot Yogyakarta dan empat kabupaten di DIY. Intinya, pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi 50 persen.

Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi meminta orang tua dan keluarga memperhatikan anak-anak selama PTM.

”Penerapan protokol kesehatan di rumah dan sekolah berjalan beriringan. Saat ini, kami sedang  evaluasi prokes PTM di sekolah,” kata Heroe.

Pemkot Yogyakarta sedang melakukan antisipasi merebaknya virus omicron. Salah satunya menata kembali peraturan pelaksanaan kegiatan sosial ekonomi.

Selain melakukan  proses PTM 50 persen, juga melakukan skrining di beberapa sekolah. Pembatasan PTM 50 persen dilakukan sampai menunggu perkembangan  jumlah kasus di Kota Yogyakarta semakin menurun.

Apa tanggapan sekolah? Komentar Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Yogyakarta, Titik Sugiarti, misalnya. Ia menyatakan mengikuti arahan pemerintah. Ia menerapan sistem pembelajaran berdasarkan presensi ganjil dan genap.

”Siswa masuk  sesuai presensi  masing-masing. Berlaku untuk siswa kelas 7, 8 dan kelas 9,” ujarnya.

Meski demikian, siswa kelas 9 sedih dengan pemberlakuan PTM 50 persen. Mereka menyatakan penting belajar tatap muka di sekolah.

Apalagi siswa kelas 9 akan menghadapi ujian akhir. Siswa berharap PTM dilakukan 100 persen.

Sejumlah orang tua murid juga menyatakan kecewa terhadap diberlakukannya PTM 50 persen. Bayu, misalnya.

Orang tua dari siswa madrasah di Kota Yogyakarta ini hanya bisa geleng-geleng kepala. Betapa tidak.

Ia baru saja mengantar anaknya kembali sekolah setelah setahun lebih belajar daring di rumahnya di Magetan, Jawa Timur.

“Baru beberapa hari sekolah, sudah ada peraturan baru lagi. Kasihan anak-anak yang ingin belajar di sekolah,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori SE MSi menyatakan bisa memahami kesedihan siswa. Termasuk orang tua yang kecewa terhadap pemberlakuan PTM 50 persen.

“Kami bisa memahami. Tapi, bagaimana lagi. Ini adalah antisipasi. Harapannya, PTM kembali dilaksanakan 100 persen,” kata Budi saat dikonfirmasi ZonaJogja.Com, pagi ini (4/2/2022).

Hanya, Budi belum bisa memastikan dimulainya kembali PTM 100 persen. Kepastian tersebut sangat dipengaruhi kondisi penyebaran virus corona.

Meski sebenarnya, semua instrumen di sekolah untuk menghadang penyebaran virus corona telah disiapkan. Mulai penerapan protokol kesehatan hingga sarana pendukung.

Termasuk program vaksinasi bagi pelajar sekolah dasar kelas 1 sampai 6. Budi menginformasikan, tinggal 2 ribu anak yang belum divaksin.

(aza/asa)