Privatisasi Ruang Publik Memicu Aksi Klithih? | oleh: Puji Qomariyah SSos MSi

KEBRUTALAN anak-anak muda yang mengakibatkan jatuhnya korban telah berkali-kali terjadi di DIY. Aksi klitih ini menjadi keprihatinan banyak pihak. Mengapa klitih masih terjadi?
Aksi kekerasan yang dilakukan anak muda yang dikenal sebagai geng atau kelompok klithih di Yogyakarta sebagai efek keterbatasan ruang publik yang gratis.
Aksi klithih adalah bentuk kekalahan masyarakat terhadap kapitalisme. Mengapa? Karena hampir seluruh ruang publik menjadi area privat.
Warga tidak memiliki ruang publik untuk berekspresi. Semua area berbayar jika warga ingin mengakses.
Keterbatasan ruang publik menyulitkan anak anak muda mengekspresikan diri. Sebagai alternatif ruang berekspresi adalah jalan raya.
Masalahnya, di jalan umum terjadi interaksi antarberbagai kelompok pemuda dan elemen masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda dan beragam.
Jika ruang publik yang bebas diakses tersebar di banyak tempat, maka para kawula muda bisa leluasa mengekspresikan diri secara beradab di dalamnya.
Masyarakat yang kehilangan ruang publik menjadi agresif karena tidak bisa menyalurkan bakat. Ini menjadi tanda tentang kekalahan masyarakat terhadap kapitalisasi ruang publik.
Bentuk kekalahan masyarakat terlihat pada ketidakmampuan mempertahankan atau menyisakan ruang terbuka untuk ruang berekspresi bagi generasi muda.
Ketika warga kehilangan ruang publik, kecenderungan mereka akan melakukan aksi sporadis dan berperilaku agresif. Sementara respon warga atas perilaku dimaskud sangat terbatas.
Sebagai solusi, pemerintah daerah harus menyediakan banyak ruang publik, yang memungkinkan para kawula muda mengakses secara gratis.
Kehadiran pemerintah daerah sangat diperlukan untuk memainkan peran yang signifikan dalam mengatasi klithih dan pendekaan apa yang perlu diterapkan.
Pemerintah daerah perlu menyedikan fasilitas ruang publik yang bebas akses. Langkah demikian sebagai perlawanan dan antitesa terhadap kapitalisasi ruang sekaligus menghadirkan ruang untuk publik.
Karakteristik lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia. Semakin kapitalis suatu lingkungan, maka semakin materialistis dan individulistis warganya. Bahkan menjadi egoistis.
Dari lingkungan egoistis dan tidak memiliki ruang publik klithih makin leluasa muncur dan melakukan aksi tidak menusiawi. (*)
Penulis adalah Wakil Rektor III Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta
KOMENTAR (0)
PILIHAN REDAKSI
Kota Yogyakarta Masuk Wilayah Endemis DBD, Warga Diminta Perkuat Gerakan 3M Plus
- 9 Oktober 2026 10:58 WIB
Daun-daun yang memenuhi talang air juga harus dibersihkan, agar tidak menimbulkan genangan saat musim hujan.
Sultan HB X: Kedaulatan Tanpa Keadilan Hanya akan Lahirkan Kekuatan yang Timpang
- 17 Agustus 2026 13:15 WIB
Perlu diwujudkan melalui kontribusi nyata, persatuan, serta komitmen bersama dalam membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Didampingi Gusti Prabukusumo, Joxzin Lawas Gerudug Muntilan, Ini yang Dilakukan
- 23 Juli 2026 10:34 WIB
Dewan Pembina Joxzin Lawas, Arya Ariyanto memberi apresiasi kepada Joxzin Lawas yang kegatannya selalu memberi manfaat bagi masyarakat .
Terpilih Aklamasi, Muhlisin Ketua Umum KKPJ Hingga 2030
- 9 September 2026 17:01 WIB
Peserta Musbeslub dihibur penampilan Sanggar Seni Panca Manggala, aksi Jurus Tunggal dari PSHT Maluku Utara, dan Tari Jaranan Turonggo Yakso.
Besok Gelaran WJNC di Jalan Malioboro, Jalan Ditutup Mulai Jam 13.00
- 6 Oktober 2026 07:57 WIB
Parade diberangkatkan dari Gedung DPRD DIY menuju Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Operasi Gabungan Gagalkan Penyelundupan 1,3 Ton Ketamine di Perairan Natuna
- 9 Agustus 2026 20:11 WIB
Tim gabungan Joint Operation selanjutnya akan mengintensifkan pemeriksaan terhadap para tersangka.
76 Sekolah Ikuti MLSC Yogyakarta Seri 1, 1.294 Atlet Berlaga di Rumput Hijau
- 19 September 2026 22:04 WIB
MLSC bertujuan mempopulerkan sepak bola putri agar dapat membawa nama Indonesia ke pentas dunia di masa depan.
Spill Seni dan Pariwisata, Joko Mursito Dapat Predikat Doktor “Terbaik”
- 24 Agustus 2026 10:10 WIB
kebijakan publik yang dilandasi riset pendidikan akan melahirkan program yang implementatif bagi pembangunan daerah.


Saat ini belum ada komentar