oleh

Presiden Joko Widodo Sebut Muhammadiyah Pilar Strategis Bangsa yang Kuat

JAKARTA, ZonaJogja.Com – Pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah  bertolak ke Jakarta.

Rombongan yang dipimpin Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir, menemui Presiden Ir H Joko Widodo di Istana Negara, hari ini (16/9/2022).

Juga ikut hadir bersama rombongan,  panitia pusat Muktamar ke-48. Dikutip dari akun facebook Haedar Nashir, kedatangan pimpinan persyarikatan menyampaikan undangan Muktamar.

Sekaligus menjelaskan serangkaian kegiatan Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-48 di Surakarta, 18-19 November 2022.

Kata Haedar, Muktamar Muhammadiyah akan membahas Risalah Islam Berkemajuan, laporan PP Muhammadiyah, program Muhammadiyah tahun 2022-2027.

BACA JUGA: Biaya Tunggakan SPP Bisa Dicover Pemkot Yogyakarta, Bagaimana Cara Mendapatkan?

“Juga isu-isu strategis keumatan, kebangsan dan kemanusiaan universal,” kata Haedar Nashir.

Muktamar kali ini menggunakan sistem IT yang canggih dalam sidang pra Muktamar.

Termasuk dalam sistem pemilihan yang sepenuhnya dilakukan lewat sistem e-voting.

“Ini menandakan Muhammadiyah adaptif.  Juga memelopori penggunaan IT dengan sistem digital yang canggih. Karena Muhammadiyah mempunyai perguruan tinggi yang memback up sistem IT,” kata Haedar.

Dalam pertemuan itu, Haedar juga menyampaikan kepada presiden terkait perkembangan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah membantu pemerintah menanggulangi pandemi.

BACA JUGA: Pemkot Yogyakarta Buka Pendaftaran ASN Berprestasi, Baca Syarat dan Ketentuannya

Serta tetap menjalankan misi mengamalkan komitmen negara Pancasila Darul Ahdi wa Syahadah lewat pembangunan amal usaha dan program-program ekonomi.

Haedar menegaskan, derap berkemajuan  menjadi jiwa, alam pikiran dan praktek nyata Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Lantas, apa pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo kepada pimpinan Muhammadiyah?

“Bapak presiden menyampaikan apresiasi yang tinggi. Percaya Muhammadiyah merupakan pilar strategis bangsa yang kuat dalam membangun usaha keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan lewat pusat-pusat kemajuan,” kata Haedar. (*)

Komentar