Headline

Ada Kesamaan Aktivitas Gunung Merapi Setelah Letusan 1872 dan 2010, Ini Penjelasannya

596
×

Ada Kesamaan Aktivitas Gunung Merapi Setelah Letusan 1872 dan 2010, Ini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
MENAWAN: Gunung Merapi dari Lapangan Boyong, Jalan Boyong, Pakem. (herpri binarwan)

YOGYAKARTA, ZonaJogja.Com – Aktivitas Gunung Merapi saat ini ada kemiripan dengan aktivitas setelah letusan tahun 1872.

Adalah Subandriyo, mantan kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta  yang mengungkapkan kesamaan tersebut.

“Aktivitas setelah letusan 2010 menyerupai setelah letusan 1872,” kata Subandriyo kepada ZonaJogja.Com, hari ini (14/1/2023).

Ia lantas mengutip kronologi yang dibeberkan MA Hartmann.  Dalam catatan MA Hartman, 15 April 1872, terjadi letusan dahsyat yang berlangsung selama 5 hari sejak 15 April 1872.

Tercatat terjadi letusan selama 120 jam tanpa henti. Terjadi hujan abu dan kerikil hingga Karawang, Bandung , dan pulau Bawean di sebelah timur.

Letusan juga memuntahkan material ke semua sungai  di lereng Merapi. Yakni, sungai Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang, Woro, dan sungai Gendol.

BACA JUGA: Santri Weekend di Ponpes Ar-Raudah Solo

Total material vulkanik yang dimuntahkan mencapai 100 juta meter kubik. Sementera pasca letusan 26 Oktober 2010, terjadi puncak letusan 3-8 November 2010.

Letusan juga mengirim hujan abu hingga Bogor, Jawa Barat. Terjadi letusan vertikal yang menghasilkan  awan panas menyebar secara radial  ke Kali Apu, Trising, Senowo, Putih, Krasak, Boyong, Kuning, Woro dan Gendol.

“Pada letusan 2010, aliran awan panas dominan ke sungai Gendol yang mencapai jarak sejauh 15 km dari puncak,” kata Subandriyo.

Lantas, bagaimana kesamaan aktivitas Gunung Merapi setelah letusan 1872 dan 2010?

Pada letusan 1872, terbentuk kawah dengan diameter 600 x 480 meter dengan kedalaman 500 meter.

Erupsi eksplosif terjadi tahun 1878 hingga 1880. Pembentukan kubah lava tahun 1883 – 1884.

Tahun 1885 hingga 1887 terjadi pertumbuhan kubah lava minor, dan letusan eksplosif kecil disertai guguran lava.

Pada tahun 1888 terjadi ekstrusi. Yakni, pertumbuhan kubah lava, awan panas sejauh 7,5 kilometer ke arah barat.

BACA JUGA: Profesor UGM Tak Setuju Anak-anak Dilarang Main Lato-Lato, Ini Alasannya

Ekstrusi adalah keluarnya magma ke permukaan bumi dan menjadi lava atau meledak secara dahsyat di atmosfer.

Sementara saat letusan 2010, terbantuk kubah diameter 431 x 358 dengan kedalaman 150 meter. Awan panas sejauh 15 kilometer.

Erupsi eksplosif terjadi 2012 – 2014. Selanjutnya tahun 2018-2019 terjadi 12 kali erupsi freatik yang berlangsung 11 Mei – 1 Juni 2018.

Ekstruksi magma 11 Agustus 2018, awan panas berlangsung Januari hingga Septembr 2019.

Tahun 2020 – 2022  proses letusan eksplosif. Terjadi letusan eksplosif 22 September 2019 hingga 21 Juni 2020.

Terjadi pertumbuhan kubah lava disertai awan panas guguran.

Kata Subandriyo, enam belas tahun setelah letusan 1872, tepatnya tahun 1888, terjadi pertumbuhan kubah lava dan awan panas sejauh 7,5 kilometer ke arah barat.

“Bila ada kesamaan aktivitas dengan letusan 1872, apa yang akan terjadi dengan Gunung Merapi? Menurut saya, pertanyaan itu menarik menjadi bahan diskusi,” ujarnya. (*)